Agus Widjojo Enggan Kisahnya Ditulis Biografi, Begini Cerita Sampai Bisa Luluh

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Agus Widjojo, Putra Pahlawan Revolusi Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo berbicara dalam acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Ketua panitia pelaksana Simposium Nasional Tragedi 1965, Suryo Susilo, menyatakan bahwa, Simposium ini diharapkan dapat menjadi perjalanan akhir dari peristiwa yang penuh polemik selama lima puluh tahun ini. TEMPO/Subekti

    Agus Widjojo, Putra Pahlawan Revolusi Mayjen Anumerta Sutoyo Siswomiharjo berbicara dalam acara Simposium Nasional Membedah Tragedi 1965 di Jakarta, 18 April 2016. Ketua panitia pelaksana Simposium Nasional Tragedi 1965, Suryo Susilo, menyatakan bahwa, Simposium ini diharapkan dapat menjadi perjalanan akhir dari peristiwa yang penuh polemik selama lima puluh tahun ini. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) kembali menyelenggarakan acara peluncuran buku Tentara Kok Mikir? Inspirasi Out of Box Agus Widjojo pada Rabu, 25 Agustus 2021. Buku tersebut ditulis oleh seorang jurnalis juga pernah berkarier di Tempo, Bernada Rurit.

    Agus Widjojo adalah seorang letnan jenderal yang menjabat sebagai Gubernur Lemhannas. Ia merupakan angkatan militer pertama pada 1970. Dalam militer kiprahnya bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional. Agus pernah menjalankan operasi militer kedamaian PBB dalam Emergency Force Sinai dan Vietnam.

    Dalam acara peluncuran Rurit bercerita pertemuannya dengan Agus Widjojo. Ia telah mengenal Agus selama 20 tahun. Rurit telah lama meminta izin Agus untuk menulis buku biografi tentang kisah Agus Widjojo. Namun, Agus Widjojo sempat menolak. “Dia sudah lama mengetuk pintu saya,” kata Agus.

    Agus tidak ingin jika ada yang menulis biografi tentang dirinya. “Karena cenderung nanti penuh dengan puja puji karena tidak jujur,” ungkap Agus. Namun, akhirnya Agus mengizinkan Rurit untuk menulis tetapi tidak dalam bentuk biografi. Agus menawarkan jalan tengah, yaitu meminta Rurit menulis tentang suka duka Agus ketika menulis buku militer Transformasi TNI, dan kisah hidupnya bukan hanya dalam militer.

    Pada 2002, Rurit mengontak Agus Widjojo yang saat itu telah pensiun dan tinggal di Singapura. Agus mengiyakan pertemuan dan menentukan titik temunya, yaitu di stasiun MRT. Seorang teman Rurit yang ikut bertemu Agus kaget dan bertanya kepadanya, “Ini beneran jenderal bintang tiga?”

    Rurit menilai Agus Widjojo adalah sosok yang sederhana, “Pak Agus yang saya lihat itu humble dan down to earth.” Rurit bercerita bahwa memang dia tidak ingin menulis buku biografi yang nantinya cenderung narsistik. Tetapi Ia ingin menyajikan kisah yang jujur mulai dari kisah Agus ketika masih berumur lima tahun dan tinggal oleh Ibunya. Lalu, saat Agus SMA ditinggal oleh Ayahnya, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo yang dibunuh dalam Peristiwa Lubang Buaya. Kiprah Agus sebagai TNI yang intelek dengan gagasannya soal teritorial yang ditolak karena ada tudingan pengaruh asing. Hingga bagaimana persentuhan Agus dengan Masyarakat Sipil.

    SRI RAHMAWATI

    Baca: Gubernur Lemhanas: Politik Dinasti Mengancam Demokrasi di Daerah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.