Menkes Sebut Jawa-Bali Sudah Lalui Puncak Covid-19, Pulau Lain Menanjak

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana vaksinasi Covid-19 di Terowongan Kendal, kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat, 30 Juli 2021.  TEMPO/Muhammad Hidayat

    Suasana vaksinasi Covid-19 di Terowongan Kendal, kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat, 30 Juli 2021. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan atau Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan Pulau Jawa dan Bali sudah melalui puncak kasus Covid-19. Budi menyebut puncak kasus terjadi setelah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat selama 13 hari, atau pada 15 Juli lalu.

    Setelah itu, kata dia, angka kasus Covid-19 harian mulai menunjukkan penurunan. Dalam paparannya, Budi menyampaikan bahwa kasus harian di Jawa dan Bali menurun sebanyak 60 persen dalam kurun 15 Juli hingga 1 Agustus 2021.

    "Sejak PPKM darurat dimulai, dalam 13 hari alhamdulillah kita sudah kena di puncak dan kita sudah mulai melihat laju penurunannya," kata Budi dalam konferensi pers, Senin, 2 Agustus 2021.

    Di sisi lain, kata Budi, angka kasus di luar pulau-pulau lain mengalami kenaikan. Dia mengatakan pemerintah akan menangani peningkatan kasus Covid-19 di luar Jawa dengan cepat.

    Menurut Budi, pemerintah tinggal mereplikasi saja langkah-langkah intervensi yang dilakukan di Jawa dan Bali. Salah satunya dengan memperkuat pengetesan, pelacakan, dan isolasi.

    Budi mengakui rendahnya angka testing dan tracing akan berdampak pada terlambatnya penanganan kasus dan tingginya angka kematian. "Kenapa kematian tinggi karena orang masuk rumah sakit udah telat. Karena testing-nya juga kurang banyak," ujarnya.

    Ia mengingatkan, pemerintah melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri telah menargetkan jumlah testing setiap kabupaten/kota berdasarkan angka positivity rate di setiap daerah. Semakin tinggi positivity rate, jumlah testing harus semakin banyak.

    Budi mengimbuhkan, testing yang harus diperbanyak ialah pengetesan untuk epidemiologi. Bukan testing skrining seperti yang dilakukan jika hendak bepergian, menghadiri acara, atau menemui orang lain. Adapun yang dimaksud testing epidemiologi ialah pengetesan terhadap mereka yang kontak erat dengan orang positif Covid-19.

    Menkes Budi Gunadi membeberkan, berdasarkan data 22-29 Juli 2021, jumlah testing epidemiologi sebanyak 45 persen. Artinya, lebih dari separuh pemeriksaan spesimen nasional dilakukan untuk skrining, bukan pemeriksaan kontak erat atau suspek. "Testing skrining tetap, tapi kami tambah secara lebih agresif testing epidemiologis yang bersumber dari pelacakan dan kontak erat," ucapnya.

    Baca juga: Hindari Kepanikan, Menkes Minta RS Sampaikan Total Kamar



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.