Penyintas Covid-19 Bisa Donor Plasma Konvalesen, Tapi Begini Syaratnya

Reporter

Warga yang juga penyintas COVID-19 melakukan donor plasma konvalesen di Kantor PMI DKI Jakarta, Senin, 15 Februari 2021. Plasma konvalesen dari penyintas Covid-19 mampu membantu kesembuhan bagi pasien lainnya yang tengah berjuang. TEMPO/Muhammad Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Plasma konvalesen merupakan plasma darah yang diambil dari pasien Covid-19 yang telah sembuh, lalu diproses dan diberikan kepada pasien yang sedang dalam pemulihan setelah terinfeksi Covid-19.

Menurut Tonanh Dwi Ardyanto yang merupakan Juru Bicara Sadgas Covid-19 Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS), plasma konvalesen sudah dikenal sejak lama sebagai sebuah metode terapi.

Terapi plasma konvalesen untuk penyintas Covid-19, penyintas penyakit itu diharapkan sudah membentuk antibodi. Plasma penyintas Covid itu kemudian diberikan kepada orang lain yang sedang menghadapi infeksi virus Corona.

Plasma konvalesen diberikan kepada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan mengancam jiwa. Hasil akan baik jika diberi kurang dari 14 hari dari onset (saat timbulnya gejala), diharapkan antibody dari pasien yang sudah sembuh bekerja sebagai imunisasi pasif bagi pasien.

Plasma darah yang mengandung antibodi dari donor, kemudian ditranfusi kepada pasien yang membutuhkan. Tetapi, menurut David H. muljono, peneliti senior Lembaga Biologi Molekuler Eijkman mengatakan, terapi plasma konvalesen virus Corona hanya diberikan kepada pasien derajat sedang yang mengarah kepada pneumonia dan hipoksia.

Baca: Pentingnya Pemberian Plasma Konvalesen Sedini Mungkin

Tetapi plasma konvalesen Covid-19 bukan diberikan sebagai upaya pencegahan, melainkan pengobatan. Oleh karena itu perlu dibentuk perkumpulan penyintas Covid-19, yaitu mereka yang telah sembuh dari penyakit Covid-19 dan perlunya dilakukan sosialisasi secara massif terkait pentingnya pendonor paska sembuh dari infeksi Covid-19

Oendonor plasma konvalesen selain telah sembuh dari Covid-19, usia pendonor juga sangat penting. Usia pendonor plasma konvalesen berusia 18-60 tahun dengan berat badan kurang Leboh 50 kilogram dan memiliki tekanan darah 160/100 sampai dengan 110/70 mmHg.

Dengan denyut nadi teratur 50-100 kali per menit dengan suhu tumbuh kurang dari 37 derajat Celcius, serta memiliki kadar hemoglobin ≥12,5 s/d ≤17 gr/dl.

Syarat lainnya untuk donor plasma konvalesen tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu dan sedang hamil atau menyusui bagi pendonor wanita, tidak memiliki penyakit jantung dan epilepsi serta tidak mengidap penyakit infeksi menular seperti HIV.

SAMA AMIRAH






Kaitan COVID-19 Parah dan Masalah Kognitif

6 Mei 2022

Kaitan COVID-19 Parah dan Masalah Kognitif

Semakin parah kondisi pasien Covid-19, semakin buruk masalah kognitif yang dialami. Begitu ungkap penelitian di Inggris.


3 Faktor yang Pengaruhi Risiko Kerusakan Paru Pasca Covid-19

23 Maret 2022

3 Faktor yang Pengaruhi Risiko Kerusakan Paru Pasca Covid-19

Dokter menjelaskan ada tiga faktor yang mempengaruhi risiko kerusakan paru-paru pada pasien setelah terinfeksi COVID-19. Apa saja?


Kuku Penyintas Covid-19 Menyala di Bawah Sinar UV, Ini Penjelasan RSA UGM

9 Maret 2022

Kuku Penyintas Covid-19 Menyala di Bawah Sinar UV, Ini Penjelasan RSA UGM

Viral berita kuku penyintas Covid-19 menyala di bawah sinar UV karena minum favipiravir. UGM mengatakan secara klinis belum ada fenomena flouresensi.


Ivermectin, Oseltamivir, Azitromisin Dicoret dari Daftar Obat Covid-19

9 Februari 2022

Ivermectin, Oseltamivir, Azitromisin Dicoret dari Daftar Obat Covid-19

Buku Pedoman Tata Laksana Covid-19 Edisi 4 tidak memuat empat obat antivirus dan satu terapi untuk pasien Covid-19. Ivermectin termasuk.


Plasma Konvalesen dan Ivermectin Dicabut dari Buku Pedoman Medis

9 Februari 2022

Plasma Konvalesen dan Ivermectin Dicabut dari Buku Pedoman Medis

Plasma konvalesen dan Ivermectin sebelumnya masuk dalam buku pedoman tata laksana Covid-19 edisi 3


Kenali Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Kualitas Tidur

8 Februari 2022

Kenali Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Kualitas Tidur

Gangguan psikiatri yang paling umum ditemukan terhadap penyintas Covid-19 adalah insomnia atau susah tidur dan gangguan kecemasan.


Pakar Sebut Penyintas COVID-19 Juga Bisa Terinfeksi Omicron

7 Februari 2022

Pakar Sebut Penyintas COVID-19 Juga Bisa Terinfeksi Omicron

Pakar mengatakan penyintas COVID-19 bisa kembali terkena varian Omicron. Begitu pula orang yang sudah divaksin lengkap. Simak sarannya.


Cara Atasi Gejala Kelelahan pada Penyintas COVID-19

27 November 2021

Cara Atasi Gejala Kelelahan pada Penyintas COVID-19

Kelelahan adalah gejala yang paling sering ditemukan pada sindrom pasca-COVID. Keluhan ini bahkan masih dirasakan setelah 100 hari terpapar COVID-19.


Jangan Lengah, Waspada Long Covid, Berikut Gejala dan Cara Mengatasinya

15 November 2021

Jangan Lengah, Waspada Long Covid, Berikut Gejala dan Cara Mengatasinya

Long covid merupakan istilah yang digunakan pada penyintas Covid-19 yang masih mengalami gejala meskipun sudah dinyatakan negatif. Ini gejalanya.


Penyintas Covid-19 Mengalami Rambut Rontok Selama 6 Bulan Setelah Sembuh

5 November 2021

Penyintas Covid-19 Mengalami Rambut Rontok Selama 6 Bulan Setelah Sembuh

Penyintas Covid-19 umumnya merasakan berbagai gangguan kesehatan meski sudah dinyatakan sembuh. Salah satunya rambut rontok.