Politikus Demokrat Sebut Moeldoko Tak Punya Political Correctness, Kenapa?

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menggelar konferensi pers di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Februari 2021. Moeldoko membantah tuduhan dirinya hendak mengambil alih Partai Demokrat. TEMPO/Putri.

    Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko menggelar konferensi pers di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Februari 2021. Moeldoko membantah tuduhan dirinya hendak mengambil alih Partai Demokrat. TEMPO/Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik menanggapi kabar Moeldoko pernah menemui Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam pertemuan itu, Moeldoko meminta izin menjadi ketua umum partai berlambang bintang mercy tersebut.

    Kabar ini mencuat dalam kesaksian pengurus Demokrat yang menghadiri pertemuan dengan Moeldoko di Hotel Aston, Setiabudi, Jakarta Selatan. Jhoni Allen Marbun dan mantan Bendahara Umum Demokrat Muhammad Nazaruddin disebut hadir di pertemuan itu.

    Rachland membantah adanya pertemuan dan pembicaraan antara Moeldoko dan SBY itu. "Tidak pernah ada percakapan itu," kata Rachland ketika dihubungi, Rabu, 3 Februari 2021.

    Rachland justru menceritakan pertemuan lain antara Moeldoko dan SBY yang terjadi sekitar 2014. SBY ketika itu sudah tak lagi menjabat sebagai presiden, tetapi masih menjadi ketua umum partai. Adapun Moeldoko masih menjabat sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia.

    Baca juga: Pengurus Demokrat di Daerah Buat Surat Pernyataan Loyal untuk AHY

    Saat itu, kata Rachland, Demokrat sedang mempersiapkan kongres partai tahun 2015. Mengenakan seragam TNI lengkap, Moeldoko menemui SBY di Cikeas, Bogor, Jawa Barat. Menurut Rachland, Moeldoko menyampaikan kepada SBY agar mengangkat kembali Marzuki Alie sebagai sekretaris jenderal Demokrat mendampingi SBY.

    "Dia mau mengusulkan agar Marzuki Alie diangkat menjadi sekjen dampingi Pak SBY. Pak SBY kaget, apa urusannya Panglima TNI mengurusi politik," kata Rachland.

    Rachland menilai peristiwa itu menunjukkan bahwa Moeldoko tidak memiliki political correctness. Menurut dia, sangat tidak tepat seorang Panglima TNI turut campur dalam masalah partai politik.

    "Artinya mencampuri hal yang bukan hak atau kewenangannya adalah kebiasaan lama dia," kata Rachland.

    Dalam konferensi pers, Moeldoko mengaku tak ingat pernah menemui SBY untuk menyodorkan nama Marzuki Alie. "Udah lupa, 2015, yang jelas-jelas aja lah," kata Moeldoko di rumahnya, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, 3 Februari 2021.

    Moeldoko mengakui sempat beberapa kali bertemu kader Demokrat. Namun dia, membantah disebut hendak mengambil alih partai itu. Moeldoko mengatakan ia adalah orang luar dan hanya mendengarkan keluhan tentang kondisi internal partai. "Semua ada AD/ART di dalam parpol. Bukan lucu-lucuan begitu," ujar dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti Istilah Kebijakan Pemerintah Atasi Covid-19, dari PSBB sampai PPKM

    Simak sejumlah istilah kebijakan penanganan pandemi Covid-19, mulai dari PSBB hingga PPKM, yang diciptakan pemerintah sejak 20 April 2020.