Wamenkes: Belum Ada Sanksi Bagi Penolak Vaksinasi Covid-19, Persuasif Saja

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat antre menunggu pengambilan vaksin Covid-19 Sinovac di gudang pendingin Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rabu, 13 Januari 2021. Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan 3 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac untuk diberikan pada tenaga kesehatan di Indonesia. TEMPO/Prima Mulia

    Petugas kesehatan dari pusat kesehatan masyarakat antre menunggu pengambilan vaksin Covid-19 Sinovac di gudang pendingin Dinas Kesehatan Kota Bandung, Rabu, 13 Januari 2021. Kementerian Kesehatan telah mendistribusikan 3 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac untuk diberikan pada tenaga kesehatan di Indonesia. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebut sampai saat ini pemerintah belum menetapkan aturan khusus terkait sanksi bagi penolak vaksinasi Covid-19.

    "Sekarang belum ada sanksi atau belum ditetapkan punishment (hukuman) kepada orang yang tidak mau divaksin Covid-19," ujar Dante saat memberikan keterangan pers di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada Kamis, 14 Januari 2021.

    Kemenkes, kata dia, akan mengupayakan pendekatan persuasif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang urgensi vaksinasi Covid-19. "Pendekatan persuasif yang akan kami dilakukan (untuk sosialisasi vaksinasi)," tuturnya.

    Sebelumnya, Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Edward Hiariej menyebut, masyarakat yang menolak penyuntikan vaksin Covid-19 dapat dikenakan sanksi pidana.

    ADVERTISEMENT

    Guru besar hukum pidana Universitas Gadjah Mada itu mengatakan, ketentuan pidana bagi penolak vaksinasi diatur dalam UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

    Pasal 93 UU tersebut menyatakan, setiap orang yang tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan dan/atau menghalangi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan sehingga menyebabkan kedaruratan kesehatan masyarakat bisa dipidana dengan penjara paling lama satu tahun dan/atau denda maksimal Rp 100 juta.

    Sementara itu, pada pasal 9 UU yang sama, disebutkan bahwa setiap orang wajib mematuhi penyelenggaraan karantina kesehatan dan ikut serta dalam penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan.

    "Jadi ketika kita menyatakan bahwa vaksin ini adalah suatu kewajiban maka secara mutatis mutandis jika ada warga negara yang tidak mau divaksin maka bisa dikenakan sanksi, bisa berupa denda, bisa berupa penjara, bisa juga kedua-duanya," ujar Edward.

    Belakangan, Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly mengklarifikasi bahwa sanksi pidana tersebut merupakan pilihan terakhir. Pemerintah, ujar dia, akan mengupayakan pendekatan persuasif terlebih dahulu.

    "Dalam peraturan yang kita buat hanya sanksi administratif. Ini sebetulnya hanya untuk mendorong supaya masyarakat mau ikut bersama-sama karena kalau hanya sebagian kecil masyarakat mengikuti vaksinasi Covid-19, tentunya herd immunity yang kita harapkan tidak akan terjadi," kata Yasonna lewat keterangan tertulis, kemarin.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 4 dan 3 di Jawa dan Bali, Ada 33 Wilayah Turun Tingkat

    Penerapan PPKM Level 4 terjadi di 95 Kabupaten/Kota di Jawa-Bali dan level 3 berlaku di 33 wilayah sisanya. Simak aturan lengkap dua level tadi...