Machfud Arifin Sebut Banyak Kampung Kumuh Surabaya, Eri Cahyadi Membantah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Machfud Arifin (kedua kiri) dan Mujiaman (ketiga kanan) memperlihatkan poster dengan nomor urut usai rapat pleno terbuka pengundian nomor urut pasangan calon wali kota dan wakil wali kota di Surabaya, Jawa Timur, Kamis 24 September 2020. ANTARA FOTO/Moch Asim

    Pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya Machfud Arifin (kedua kiri) dan Mujiaman (ketiga kanan) memperlihatkan poster dengan nomor urut usai rapat pleno terbuka pengundian nomor urut pasangan calon wali kota dan wakil wali kota di Surabaya, Jawa Timur, Kamis 24 September 2020. ANTARA FOTO/Moch Asim

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 2, Machfud Arifin menyebut masih banyak kampung kumuh di Kota Pahlawan itu. Machfud pun berjanji akan membenahi persoalan ini jika terpilih menjadi Wali Kota Surabaya.

    "Di Surabaya ini kampung-kampungnya masih banyak yang kumuh, kami temukan di Asem Rowo sungai enggak tampak airnya, semuanya penuh sampah. Di Krembangan juga sama," kata Machfud dalam debat perdana yang disiarkan akun Youtube Komisi Pemilihan Umum Kota Surabaya, Rabu malam, 4 November 2020.

    Hal ini disampaikan Machfud menjawab pertanyaan ihwal strategi menjadikan Surabaya sebagai kota layak huni. Menurut Machfud, kriteria membangun kawasan layak huni adalah ketersediaan perumahan, air, ruang publik, dan sanitasi.

    Di Surabaya, kata dia, masih ada 100 ribu kepala keluarga yang belum memiliki jamban. Ia mengatakan masih banyak masyarakat yang buang air besar di sungai-sungai. Mantan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur ini berjanji bakal membangun jamban-jamban komunal bila terpilih menjadi wali kota.

    "Kalau saya jadi wali kota saya akan bersihkan, saya yakinkan tidak ada lagi orang buang kotoran di sungai. Yang ada di Surabaya ini sangat memprihatinkan," ujar Machfud.

    Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 1, Eri Cahyadi membantah Surabaya disebut kumuh. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini menyitir data dari Direktorat Jenderal Cipta Karya yang menyebut tingkat kumuh Surabaya sudah 0 persen. "Karena kumuh itu ada faktor-faktor lain yang dihitung, tidak hanya satu hanya pandangan mata langsung," kata Eri.

    Eri mengatakan Kota Surabaya juga memperoleh banyak penghargaan. Di antaranya Adipura Kencana sebanyak lima kali berturut-turut, penghargaan kota layak huni dari Lee Kuan Yew World City Prize. Total, kata Eri, ada 30 penghargaan internasional dan 286 penghargaan nasional.

    "Ini menunjukkan data itu yang bicara. Nol persen tadi saya sampaikan dari Dinas Cipta Karya," ujar politikus PDI Perjuangan ini.

    Machfud Arifin kembali menanggapi. Ia meminta pasangan Eri-Armuji untuk melihat langsung kondisi sungai-sungai di Surabaya yang penuh sampah, tidak hanya membanggakan penghargaan.

    "Boleh itu surat-surat penghargaan, mari ke Krembangan Kulon, Krembangan Wetan, sungai yang tidak kelihatan airnya, sampah begitu panjang sampai bozem (waduk buatan). Itu yang harus kita lihat di lapangan," kata Machfud. Macfud juga berjanji akan membedah rumah sebanyak 2.000 unit setiap tahunnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.