Diduga Gagal Lolos CPNS, Massa Rusak Kantor Bupati Keerom di Papua

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menyaksikan bangunan yang terbakar saat berlangsungnya aksi unjuk rasa di Jayapura, Papua, Kamis, 29 Agustus 2019. Massa membubarkan diri sekitar pukul 18: 00 WIT setelah sempat membakar beberapa gedung dan pertokoan. ANTARA/Indrayadi TH

    Warga menyaksikan bangunan yang terbakar saat berlangsungnya aksi unjuk rasa di Jayapura, Papua, Kamis, 29 Agustus 2019. Massa membubarkan diri sekitar pukul 18: 00 WIT setelah sempat membakar beberapa gedung dan pertokoan. ANTARA/Indrayadi TH

    TEMPO.CO, Jakarta - Kantor Bupati Kabupaten Keerom dirusak dan dibakar oleh massa pada Kamis 1 Oktober 2020. Aksi tersebut diduga terjadi lantaran massa tak terima dengan hasil pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Formasi 2018 di Kabupaten Keerom

    Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal mengatakan sebagian bangunan kantor telah hangus terbakar. "Jalan Trans Papua juga sempat dipalang oleh massa," ujar Kamal melalui siaran pers pada Kamis, 1 Oktober 2020.

    Kamal mengatakan insiden ini berawal saat sekitar 250 orang tak terima dengan hasil pengumuman CPNS Formasi 2018. Mereka lantas mendatangi Kantor Bupati Keerom dan melempari kaca bangunan dengan batu.

    Tak hanya merusak, massa kemudian membakar bangunan kantor. "Anggota gabungan mengeluarkan tembakan peringatan ke udara dan menembakkan gas air mata," ucap Kamal.

    Menurut Kamal, aksi protes massa tersebut baru bisa redam setelah kepolisian Papua turun bernegosiasi dengan para tokoh. Setelah massa bubar, anggota langsung melakukan pendataan terhadap kerusakan bangunan kantor.

    "Saat ini situasi sudah dapat dikendalikan. Namun, anggota masih melakukan pengamanan di sekitar lokasi," kata Kamal.

    ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.