Eks Tim Mawar Jadi Pejabat Kemenhan, Keluarga Korban: Jokowi Menghina Kami

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau lahan yang akan dijadikan

    Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau lahan yang akan dijadikan "Food Estate" atau lumbung pangan baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis 9 Juli 2020. Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

    TEMPO.CO, Jakarta - Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) mengatakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi telah menghina keluarga korban yang kerabat atau anaknya hilang di tangan tim mawar.  

    "Kepres 166 Tahun 2020 dari Presiden Joko Widodo ini tentu penghinaan terhadap keluarga korban, yang selama 22 tahun memperjuangkan, menuntut pencarian atau pengembalian keluarga mereka yang hilang hingga saat ini," kata Sekretaris Jenderal IKOHI, Zaenal Muttaqin, dalam konferensi pers, Ahad, 27 September 2020.

    Keputusan Presiden itu berisi pengangkatan beberapa pejabat eselon 1 di Kementerian Pertahanan. Ada dua nama anggota tim mawar di dalam kepres itu.

    Zaenal mengatakan IKOHI pertama kali dibentuk akibat tindakan Tim Mawar pada 1998 silam. Ia mengatakan saat ini masih hilang 23 orang dan 13 orang belum kembali.

    Selama ini, Zaenal mengatakan banyak keluarga korban yang mendukung dan ikut mengkampanyekan Jokowi di saat pemilihan presiden. Mereka disebut mempercayai Jokowi akan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM di masa lalu yang melibatkan keluarga mereka.

    Namun harapan ini hancur lebur ketika Jokowi menunjuk Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan di periode pemerintahan 2019-2024. Mereka meyakini Prabowo adalah mastermind dari Tim Mawar itu sendiri. Pengangkatan dua eks anggota Tim Mawar belakangan, disebut Zaenal semakin menghancurkan hati keluarga korban.

    "Dengan keputusan terakhir ini tentu ini jadi yang tamparan keras, dan menambah luka bagi keluarga korban," kata Zaenal.

    Dua nama anggota Tim Mawar tersebut diduga adalah Brigjen TNI Dadang Hendrayudha yang akan menjabat sebagai Direktur Jenderal Potensi Pertahanan dan Brigjen TNI Yulius Selvanus sebagai Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Survei Indikator Politik: Masyarakat Makin Takut Menyatakan Pendapat

    Berdasarkan hasil survei, sebagian masyarakat saat ini merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.