Cerita Kisruh Dugaan Ketidakakuratan Tes Usap Oleh BIN

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas kesehatan memakai helm thermal KC Wearable saat kegiatan swab test dan rapid test COVID-19 secara massal di halaman Gedung KPU, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020. Badan Intelijen negara (BIN) bekerja sama dengan Kemenkes menggelar swab tes dan rapid test untuk memetakan kondisi kesehatan pegawai KPU dan Wartawan yang berada di zona merah sekaligus sebagai upaya pencegahan COVID-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas kesehatan memakai helm thermal KC Wearable saat kegiatan swab test dan rapid test COVID-19 secara massal di halaman Gedung KPU, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2020. Badan Intelijen negara (BIN) bekerja sama dengan Kemenkes menggelar swab tes dan rapid test untuk memetakan kondisi kesehatan pegawai KPU dan Wartawan yang berada di zona merah sekaligus sebagai upaya pencegahan COVID-19. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Lembaga Administrasi Negara kaget ketika menerima hasil tes swab Covid-19 oleh Badan Intelijen Negara (BIN). Tak hanya Adi, 15 pegawai lembaga ini pun positif.

    LAN menggelar tes usap kepada 53 personelnya melalui fasilitas mobil polymerase chain reaction atau PCR milik BIN pada Selasa, 21 Juli 2020.

    Ia dan 15 pegawainya lalu menjalani tes swab ulang di RSPAD Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. "Semuanya negatif dan hasil tes darahnya juga bagus," kata Adi seperti dikutip dari Majalah Tempo edisi 26 September 2020.

    Penelusuran Tempo menunjukkan ketidakakuratan tes usap BIN ini terjadi di tempat lain. Dua di antaranya yang disebut-sebut bekerja sama dengan BIN adalah stasiun televisi MNC dan TvOne.

    Merujuk data Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta, pemeriksaan di kantor MNC berlangsung pada Senin, 7 September. Hasilnya, 84 pegawai dinyatakan positif Covid-19.

    Dua pegawai MNC yang mengetahui hasil pengujian itu mengatakan sebagian pegawai mengikuti tes mandiri sehari kemudian. Hasilnya, semuanya negatif. Tiga pegawai di TvOne juga menceritakan kisah senada yang terjadi di kantor mereka.

    Guru besar ilmu biologi molekuler Universitas Airlangga, Chaerul Anwar Nidom, mengatakan hasil positif palsu tidak terlalu berdampak pada kesehatan. "Paling-paling menciptakan kepanikan," katanya

    Sementara dokter patologi klinik, Tonang Dwi Ardyanto, mengatakan yang berbahaya justru negatif palsu. Sebab orang yang diperiksa akan terus beraktivitas dan berpotensi menularkan orang lain. "Virus bisa menyebar lebih cepat," tuturnya.

    Deputi Bidang Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Purwanto tidak mempermasalahkan jika hasil tes PCR lembaganya menjadi positif palsu. Menurut dia, pemeriksaan yang dilakukan BIN bersifat pertolongan pertama. "Kalau sudah dites di kami, lalu dites di tempat lain dan hasilnya berbeda, silakan saja," katanya. Baca selengkapnya di Majalah Tempo edisi "Prank Corona dari Pejaten"


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Kasus Rangga, Bocah Yang Cegah Ibu Diperkosa

    Pada Kamis, 15 Oktober 2020, tagar #selamatjalanrangga trending di Facebook dan Twitter.