Warga Sunda Wiwitan Berencana Lapor ke KPK soal Sengketa Tanah

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Masyakat penganut kepercayaan sunda wiwitan yang berada di kaki gunung cermai membawa hasil bumi dalam upacara Seren Taun 22 Rayagung 1947  di Kuningan, Jawa Barat, 17 Oktober 2014. Acara tersebut merupakan ungkapan syukur atas suka duka dalam bidang pertanian. TEMPO/Nurdiansah

    Masyakat penganut kepercayaan sunda wiwitan yang berada di kaki gunung cermai membawa hasil bumi dalam upacara Seren Taun 22 Rayagung 1947 di Kuningan, Jawa Barat, 17 Oktober 2014. Acara tersebut merupakan ungkapan syukur atas suka duka dalam bidang pertanian. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas Adat Karuhun Urang Sunda Wiwitan Cigugur berencana melakukan pelaporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mereka akan meminta KPK menelisik dugaan korupsi dalam penerbitan sertifikat hak milik pribadi di atas lahan adat Leuwung Letik, di Kuningan, Jawa Barat.

    “KPK mesti memeriksa data fakta atas terbitnya sertifikat hak milik tersebut,” kata kuasa hukum komunitas adat, Shinta Sintia Dewi, saat dihubungi, Jumat, 18 September 2020.

    Sertifikat hak milik yang dimaksud Santi bernomor 01673 atas nama R Djaka Rumantaka. Sertifikat yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Kuningan itu merujuk pada tanah seluas 6.827 meter persegi di kawasan Cigugur, Kuningan yang biasa disebut Leuwung Letik. Santi mengatakan tanah tersebut berstatus tanah adat, sehingga seharusnya tidak bisa diterbitkan sertifikat. “Masyarakat menjaganya sebagai mandat Manuskrip Pangeran Madrais,” kata dia.

    Santi mengatakan penerbitan sertifikat itu juga bertentangan dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Nomor 18 Tahun 2019 tentang tata cara penatausahaan Tanah Ulayat Kesatuan Masyarakat Adat. Dia mengatakan aturan itu menyebutkan bahwa tanah adat adalah hak kesatuan masyarakat hukum adat yang bersifat komunal untuk menguasai, mengelola atau memanfaatkan.

    Selain itu, menurut Santi, penerbitan sertifikat hak milik itu juga menyalahi Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2011 yang menyatakan bahwa tanah yang berlokasi di Blok Lumbu, Kelurahan Cigugur itu sebagai kawasan resapan air dan tanah. Alih fungsi lahan, kata dia, dikhawatirkan akan merusak lingkungan.

    Sebelumnya, warga Sunda Wiwitan telah menggugat penerbitan sertifikat tanah atas nama R. Djaka Rumantaka itu ke Pengadilan Tata Usaha Milik Negara Bandung. Mereka meminta pengadilan menyatakan penerbitan sertifikat tanah itu tidak sah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sembilan Vaksin Covid-19 Dalam Percobaan

    Berbagai perusahaan sedang berbondong-bondong memproduksi vaksin Covid-19 yang ditargetkan untuk disebarluaskan tahun depan