Selasa, 22 September 2020

Tak Setuju Rencana Nadiem Buka Sekolah Tatap Muka, Sultan HB X: Berisiko

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X (baju kotak-kotak) menyatakan Keraton Yogya bersih dari potensi virus corona saat kunjungan Raja Belanda pada Rabu (11/3) lalu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan HB X (baju kotak-kotak) menyatakan Keraton Yogya bersih dari potensi virus corona saat kunjungan Raja Belanda pada Rabu (11/3) lalu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X (Sultan HB X) belum bisa mengizinkan pembukaan sekolah meski Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim sudah memberi lampu hijau.

    Sultan menilai perkembangan kasus positif Covid-19 di Yogyakarta masih tinggi sejak Juli hingga Agustus 2020. Sehingga sulit menjadikan peta zona sebagai patokan untuk mengukur keamanan pembukaan sekolah untuk pembelajaran tatap muka.

    “Jangan dululah untuk sekolah, kondisinya masih fluktuatif dan kami sekarang tidak tahu apa (Yogya) masih masuk zona hijau, kuning, atau malah sudah oranye,” ujar Sultan di Yogyakarta Selasa 11 Agustus 2020.

    Sultan HB X tak mau jika harus mempertaruhkan nasib anak-anak jenjang pendidikan terendah dengan mengizinkan tatap muka. Terlebih Yogya belum mencabut masa tanggap darurat bencana Covid-19 sampai akhir Agustus nanti.

    “Resikonya untuk anak-anak yang terlalu besar, sekolah biar belakangan saja bukanya, kami tak mau coba-coba,” ujarnya.

    Daripada mengizinkan sekolah, Sultan menyatakan memilih untuk menggencarkan upaya test swab pada masyarakat yang terdeteksi gejala Covid-19. Sehingga bisa segera diputus mata rantai penularannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Utak-atik Definisi Kematian Akibat Covid-19, Bandingkan dengan Uraian WHO

    Wacana definisi kematian akibat Covid-19 sempat disinggung dalam rakor penanganan pandemi. Hal itu mempengaruhi angka keberhasilan penanganan pandemi.