Sekjen Iluni UI Soroti Kurangnya Koordinasi Pemerintah di Tengah Pandemi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak melintasi mural bertema COVID-19 di Kawasan Kali Pasir, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2020. Mural tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam menghadapi masa pandemi covid 19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Seorang anak melintasi mural bertema COVID-19 di Kawasan Kali Pasir, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2020. Mural tersebut bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dalam menghadapi masa pandemi covid 19. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Universitas Indonesia atau Iluni UI, Bachtiar Firdaus, menyoroti lemahnya koordinasi pemerintah dalam menanggulangi Covid-19.

    “Ada ego sektoral antara kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah,” kata Bachtiar pada acara pernyataan sikap Iluni UI secara virtual, Kamis, 6 Agustus 2020.

    Selain itu, dalam pernyataan sikapnya, Iluni UI juga mendesak DPR dan Pemerintah untuk jangan dulu membahas peraturan yang secara esensial tidak berkaitan dengan pandemi.

    “Hindari berbagai macam distraksi dan wacana yang mengganggu fokus bangsa untuk menyelesaikan masalah pandemi Covid-19,” kata Bachtiar.

    Di era pandemi, Iluni UI juga tetap mendorong pelaksanaan reformasi penegakan hukum. Menurut dia, hal ini demi tegaknya keadilan sosial dan kebebasan hak asasi manusia.

    “Iluni bersikap tegas dalam berpihak pada demokrasi, menjaga ruang kebebasan berserikat, berkumpul dan berekspresi,” ujar Bachtiar.

    Kepada seluruh komponen masyarakat Iluni mengingatkan agar selalu waspada terhadap resesi yang mungkin saja hadir di tengah pandemi.

    “Diperlukan integrasi kebijakan melalui tata kelola pemerintahan yang solid dan profesional untuk menghadapi resesi global yang diprediksi para ahli sebagai ekses pandemi Covid-19,” tutur Bachtiar.

    RAFI ABIYYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pertanyaan Ganjil dalam TWK yang Mesti Dijawab Pegawai KPK

    Sejumlah pertanyaan yang harus dijawab pegawai KPK dalam TWK dinilai nyeleneh, mulai dari hasrat seksual hingga membaca doa qunut dalam salat.