Pengamat Kritik Komunikasi Publik Pemerintah Pusat di Tengah Pandemi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung berkonsentrasi saat bermain game online di warung Game Online Freedom di kawasan Sekar Pace, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, 8 Juli 2020. Semenjak diberlakukannya tahapan New Normal, pemilik warung game online memasang sekat plastik di antara tempat duduk dan membatasi jam bermain untuk anak yang belum mempunyai kartu tanda penduduk. Tempo/Bram Selo Agung Mardika

    Pengunjung berkonsentrasi saat bermain game online di warung Game Online Freedom di kawasan Sekar Pace, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, 8 Juli 2020. Semenjak diberlakukannya tahapan New Normal, pemilik warung game online memasang sekat plastik di antara tempat duduk dan membatasi jam bermain untuk anak yang belum mempunyai kartu tanda penduduk. Tempo/Bram Selo Agung Mardika

    TEMPO.CO, Jakarta - Dosen Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, mengkritik komunikasi publik pemerintah dalam penanganan pandemi.

    “Ketika the new normal itu dipahami sebagai normal bukan kenormalan baru dalam arti adaptasi kebiasaan baru, itu memang menjadi distortif dalam komunikasi yang dipahami publik,” kata Gun Gun dalam diskusi daring pada Rabu, 5 Agustus 2020.

    Ia menilai pemahaman publik belum matang dalam memahami apa itu era kenormalan baru. Ketika proses transisi, kata dia, yang muncul malah euforia masyarakat yang mengira kondisi sudah kembali normal seperti sebelum pandemi.

    Gun Gun menilai hal ini tidak sepenuhnya kesalahan masyarakat, namun ada juga isu komunikasi dari hulu ke hilir alias dari pusat ke daerah yang turut memperkeruh narasi.

    Gun Gun mengapresiasi upaya pemerintah untuk mengubah diksi new normal menjadi Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), menilai perubahan ini menjawab jurang komunikasi yang ada di masyarakat luas. Di sisi lain, ia melihat perubahan ini masih belum nampak apakah akan mempengaruhi masyarakat.

    Selain isu distorsi komunikasi, Gun Gun juga menyorot akar persoalan lainnya yaitu absennya kepemimpinan informasi dan komunikasi. Ia menilai problem ini menjadi penting karena penanganan pandemi menyangkut berbagai sektor pemerintahan.

    Ia pun menyoroti bahwa setiap sektor memiliki ego masing-masing, yang bisa menjadi kendala politis dalam menyatukan kepemimpinan komunikasi publik.

    WINTANG WARASTRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.