KPAI Sebut Mayoritas Sekolah Belum Siap Terapkan Normal Baru

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Guru memberikan pengarahan kepada murid saat hari pertama masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin, 13 Juli 2020. Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    Guru memberikan pengarahan kepada murid saat hari pertama masuk sekolah di SDN 11 Marunggi, Pariaman, Sumatera Barat, Senin, 13 Juli 2020. Kota Pariaman bersama Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Kabupaten Pasaman Barat merupakan empat daerah di zona hijau di Sumatera Barat yang sudah memulai aktivitas belajar-mengajar di sekolah dengan pola tatap muka langsung dan menerapkan protokol kesehatan COVID-19. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Bidang Pendidikan Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak buru-buru membuka kembali sekolah untuk kegiatan belajar mengajar. Alasannya, berdasarkan pantauan KPAI, mayoritas sekolah belum siap menerapkan kenormalan baru guna mencegah penyebaran Covid-19.

    Retno menjelaskan telah mengawasi langsung ke 15 sekolah jenjang SD, SMP, SMA/SMK di Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan dan Kota Bandung pada Juni lalu sebagai sampel. "Hasilnya hanya satu sekolah yang benar-benar siap secara infrastruktur kenormalan baru," kata dia dalam keterangan tertulis, Selasa, 28 Juli 2020.

    KPAI, kata Retno, juga sedang menyurvei para guru di berbagai daerah. Dari 6.664 guru yang menjadi responden dari sekolah yang berbeda, hasil sementara survei menunjukkan hanya 20 persen sekolah yang siap menghadapi kenormalan baru.

    Menurut Retno, Kemendikbud seharusnya menjadi motor penggerak dalam mempersiapkan kenormalan baru di pendidikan. Caranya dengan mempersiapkan protokol kesehatan dan daftar periksa yang disampaikan ke seluruh Dinas Pendidikan untuk dilakukan rapat koordinasi secara berjenjang, yakni mulai dari Kemendikbud dengan kepala-kepala dinas pendidikan, dinas-dinas pendidikan rapat dengan sekolah, lalu sekolah berkoordinasi dengan para guru. "Selanjutnya para wali kelas melakukan sosialisasi kepada seluruh orangtua dan siswa di kelasnya," ujarnya.

    Retno mengklaim hingga hari ini upaya tersebut belum dilakukan “Lalu bagaimana Kemendikbud hendak membuka sekolah di semua zona (hijau, orange, kuning maupun merah) ketika tidak memiliki data apapun di level sekolah," kata dia.

    Dalam kondisi pandemi saat ini, Retno mengatakan Kemendikbud tidak bisa menggunakan metode 'Merdeka Belajar' dengan seolah memerdekakan semua daerah dan sekolah untuk belajar secara tatap muka. "Kebijakan seharusnya berbasis data, bukan coba-coba. Apalagi ini soal keselamatan dan kesehatan anak-anak Indonesia, untuk anak sebaiknya jangan coba-coba,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebiasaan Anak Berbohong Dapat Merugikan Mereka Saat Dewasa

    Anak bisa melakukan kebohongan dengan atau tanpa alasan. Berbohong menurut si anak dapat menyelamatkan mereka dari konsekuensi yang diterimanya.