Tiga Upaya Jawa Timur Turunkan Angka Kematian Pasien Covid-19

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia (kedua kanan) meninjau kesiapan petugas lapangan di desa percontohan kampung tangguh jelang penerapan tatanan normal baru di Desa Bangun Jaya, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis 28 Mei 2020. Pembentukan kampung tangguh ini bertujuan menyiapkan daerah, khususnya di level desa/kelurahan, agar menerapkan protokol kesehatan ketat di tengah upaya normalisasi sendi kehidupan sosial-ekonomi masyarakatnya selama pandemi COVID-19, termasuk dalam hal penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan kesehatan, pendidikan dan tradisi-budaya setempat. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

    Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia (kedua kanan) meninjau kesiapan petugas lapangan di desa percontohan kampung tangguh jelang penerapan tatanan normal baru di Desa Bangun Jaya, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis 28 Mei 2020. Pembentukan kampung tangguh ini bertujuan menyiapkan daerah, khususnya di level desa/kelurahan, agar menerapkan protokol kesehatan ketat di tengah upaya normalisasi sendi kehidupan sosial-ekonomi masyarakatnya selama pandemi COVID-19, termasuk dalam hal penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan kesehatan, pendidikan dan tradisi-budaya setempat. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengaku khawatir dengan tingginya angka kematian pasien Covid-19 di Jawa Timur. Data per 3 Juni 2020, di Jawa Timur terdapat 7.541 kasus, dari jumlah tersebut, 2.399 pasien sembuh dan 518 pasien meninggal.

    "Saya khawatir angka kematian ini kok tinggi. Kalau angka positif tinggi kan bisa karena kami rajin tes dan tracing. Tapi, kalau angka kematian ini kan data yang paling jujur," kata Emil dalam diskusi daring, Kamis, 4 Juni 2020.

    Untuk itu, ujar Emil, pihaknya sudah berkonsultasi dengan Kementerian Kesehatan terkait kondisi ini. Dari hasil konsultasi itu, kata dia, ada sejumlah upaya pembenahan akan dilakukan pemerintah daerah Jawa Timur dalam upaya penanganan Covid-19 ini.

    Emil menyebutnya dengan istilah three lines of defense atau tiga lapis pertahanan. Pertama, Pemda Jatim akan membatasi jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit. Untuk mengatasi agar rumah sakit tidak overload, maka Pemda membuat rumah sakit lapangan di Indrapura. "Pasien yang kondisinya sedang, bisa di sana," ujar Emil.

    Lapis kedua, memberlakukan sistem rujukan. "Jadi pasien-pasien itu dirawat dulu di RS lapangan, kalau menunjukkan gejala serius, baru kita bawa ke rumah sakit utama," ujar Emil.

    Lapis ketiga, perbaikan tata laksana dan pengobatan. Baru-baru ini, kata Emil, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menganjurkan terapi plasma convalescent bagi pasien.

    Dalam terapi ini, pasien yang sembuh dari Covid-19 bisa menyumbangkan darah melalui sebuah sistem dengan metode plasma convalescent untuk mendapatkan plasma darah penuh antibodi.

    Plasma darah penuh antibodi tersebut kemudian dimasukkan ke darah milik pasien yang sedang terinfeksi Covid-19 sebagai terapi agar bisa survive dan sembuh. "Tiga langkah ini diharapkan bisa menekan angka kematian pasien di Jawa Timur," ujar Emil Dardak.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.