Solidaritas yang Tak Pupus Didera Covid-19

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    Ilustrasi alat perlindungan diri (APD). REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah individu dan komunitas bahu membahu dalam gerakan solidaritas untuk meringankan dampak pandemi Covid-19. Di tengah wabah yang mematikan mereka menolak diam dan tak mau menunggu pemerintah bersikap. Dimulai dengan ide sederhana, mereka membantu masyarakat yang terkena dampak wabah ini.

    Berikut adalah beberapa kisah gerakan solidaritas di tengah Covid-19.

    -Berbagi Makan

    Aktivis perempuan Ita Fatia Nadia menginisiasi gerakan Solidaritas Pangan Jogja ketika Covid-19 mulai melanda di Indonesia pada Maret 2020. Penggagas lainnya kebanyakan adalah aktivis Gejayan Memanggil. Gerakan Gejayang Memanggil merupakan aksi demonstrasi menolak pengesahan sejumlah undang-undang kontroversial pada September 2019. Di saat pandemi, mereka membantu kelompok miskin. “Ini gerakan kolektif warga,” kata Ita dikutip dari Majalah Tempo edisi, 16 Mei 2020.

    Solidaritas Pangan Jogja mengumpulkan donasi uang tunai dan hasil bumi dari berbagai komunitas di sekitar Yogya. Bantuan datang dari segala penjuru, seperti organisasi nonprofit, kampus, seniman, dan paguyuban petani. Bantuan berupa bahan baku makanan disalurkan kepada kelompok masyarakat untuk kemudian dimasak di dapur umum. Mereka memasak, lalu membagikan nasi bungkus kepada kaum miskin yang terdampak Covid-19, di antaranya pengayuh becak, buruh gendong, pedagang pasar tradisional, pekerja seks, pemulung, buruh tani dan tahanan politik 1965.

    Pada awal Maret, gerakan dapur umum Solidaritas Pangan hanya berlokasi di Kampung Ngadiwinatan, Yogyakarta. Sekarang dapur umum menempati 11 lokasi di seantero Jogja, di antaranya Balirejo dan Bantul. Salah satu kelompok masyarakat yang kerap mendapatkan bantuan ialah komunitas pekerja seks di Bong Suwung, Yogyakarta. Kebanyakan para pekerja seks tak mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah karena tak punya KTP Yogya. Gerakan Solidartas Pangan sudah menyebar ke berbagai kota, seperti Banyuwangi, Bandung, Serang dan Jakarta.

    -Pengertian dari Pemilik Kontrakan

    Sejumlah pemilik rumah kontrakan memangkas biaya sewa selama Covid-19. Mereka ingin meringankan beban penyewa yang pendapatannya merosot karena dampak Covid-19. Salah satunya, Dian Sofiyanti, pemilik kontrakan di kawasan Kramat Jati dan Cilangkap. Perempuan 44 tahun itu, memberi potongan 50 persen kepada 80 penghuni kontrakannya yang kebanyakan bekerja sebagai pedagang di Pasar Kramat Jati, ojek online, dan karyawan swasta. “Semoga bisa meringankan beban,” kata dia.

    Endang Yuliastuti, pemilik dua unit kontrakan di Kampung Gaga, Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Dia memutuskan tak menarik sama sekali uang kontrakan dari dua penyewa yang bekerja sebagai buruh harian dan pedagang keliling. Awalnya pembebasan uang sewa hanya dilakukan hingga Juni. Melihat kondisi penyebaran virus yang tidak membaik, ia memutuskan menggratiskan uang sewa hingga pandemi berakhir.
     

    -Santunan untuk Difabel

    Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan mengumpulkan dana bantuan untuk diberikan kepada kaum difabel. Kaum difabel ikut terdampak wabah Covid-19 karena kehilangan mata pencarian. Direktur Perdik Abdul Rahman mengatakan lembaganya membuka donasi berupa bahan pokok dan uang sejak Maret. Hingga 11 Mei lalu, donasi yang terkumpul sebanyak Rp 26 juta. Perdik menyiapkan bahan kebutuhan pokok untuk keluarga difabel yang ada di Makassar, Gowa, dan Maros Sulawesi Selatan. Selain Perdik, ada pula komunitas Kota Kita yang mengumpulkan donasi lewat situs kitabisa.org untuk diberikan kepada difabel.

    -Buka Akses untuk Petani

    Pandemi Covid-19 juga berimbas pada petani bawang putih lokal. Permintaan yang menurun ditambah impor, membuat harga bawang putih lokal turun drastis. Pandemi Covid-19 datang bersamaan dengan waktu panen. Pembatasan fisik di sejumlah daerah, membuat hasil panen petani lokal tak dapat disalurkan ke pasar. Kondisi ini membuat sejumlah komunitas petani putar otak untuk memasarkan produknya.

    Fransisca Callista, 29 tahun, menggunakan sarana media sosial untuk menjual bawang putih dari petani yang tak terserap ke pasar. Pendamping komunitas petani Kebon Jiwan, Temanggung ini secara terbuka menjelaskan bawang putih lokal memang ukurannya lebih kecil dan masih menggunakan pestisida, namun aromanya lebih kuat ketimbang impor. “Meskipun lebih susah dikupas karena ukurannya lebih kecil,” kata dia. Pada 11 Mei 2020, lewat rantai pasokan dadakan yang dia buat, petani dari Temanggung sudah berhasil menjual 1 ton bawang.

    Begitupun Serikat Petani Indonesia di Yogyakarta mencoba memasarkan produknya langsung kepada konsumen. Aksi sosial juga dilakoni Konsorsium Pembaruan Agraria. Mereka membentuk Gerakan Solidaritas Lumbung Agraria. Gerakan ini memastikan hasil bumi dari anggotannya tak membusuk di gudang penyimpanan, sekaligus mendonasikannya kepada masyarakatrentan seperti buruh, dan pekerja informal di kota besar.

    -APD Gratis

    Sejumlah kelompok berinisiatif membuat alat pelindung diri bagi tenaga medis. Di tengah kelangkaan APD semenjak Covid-19 berjangkit, mereka membagikannya gratis ke ratusan fasilitas kesehatan. Bagas Pratondho Aji, 28 tahun adalah salah satu orang yang mempelopori produksi APD untuk dibagikan ke fasilitas kesehatan. Dengan modal panduan dan gambar pola tameng wajah dari internet, anak dari perawat di RSUP dr Soeradji Tirtonegoro ini bisa membuat tameng wajah berbahan plastik mika pertamanya hanya dalam waktu singkat. “Selesai dalam waktu 20 menit saja,” kata dia, 31 Maret 2020.

    Prototipe tameng wajahnya itu kemudian diuji coba di rumah sakit tempat ibunya bekerja dan dinilai layak. Sejak itu, pesanan berdatangan dari sedikitnya dari 30 fasilitas kesehatan. Pemilik bisnis pembuatan aksesoris sepeda ini kemudian mengajak sejumlah relawan untuk membantunya memproduksi APD. Ia membiayai produksinya dengan uang sendiri dan donasi.

    Budhi Hermanto mempelopori gerakan membuat APD di Yogyakarta. Budhi mengajak 60 penjahit untuk memproduksi baju hazmat untuk tenaga medis yang menangani pasien Covid-19. “Semua penjahit yang terlibat tak mau dibayar,” kata dia.

    Sampai April lalu, kelompok yang menakaman diri Majelis Mau Jahitin (Mamajahit) ini telah memproduksi hingga 5.400 baju hazmat. Pakaian dibagikan gratis ke rumah sakti di Yogyakarta dan Surakarta. Pembelian bahan pakaian dibiayai lewat penggalangan dana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020 Prioritaskan Keselamatan dan Kesehatan

    Komisi Pemilihan Umum siap menggelar Pemilihan Kepada Daerah Serentak di 9 Desember 2020. KPU prioritaskan keselamatan masyarakat dalam Pilkada 2020.