Alasan Kasus Covid-19 di Jawa Timur Tinggi: Uji Spesimen Menumpuk

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berdesakan tanpa menjaga jarak saat mengantre pembagian Bantauan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis, 21 Mei 2020. Berdasarkan data nasional Gugus Tugas Covid-19, Jawa Timur mencatat penambahan kasus baru corona sebesar 502 orang pada Kamis, 21 Mei 2020. ANTARA/Budi Candra Setya

    Warga berdesakan tanpa menjaga jarak saat mengantre pembagian Bantauan Sosial Tunai (BST) di Kantor Pos Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis, 21 Mei 2020. Berdasarkan data nasional Gugus Tugas Covid-19, Jawa Timur mencatat penambahan kasus baru corona sebesar 502 orang pada Kamis, 21 Mei 2020. ANTARA/Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Jakarta - Pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono, menduga ada penumpukan uji spesimen Covid-19 di laboratorium di Jawa Timur. “Ditumpuk tiga hari, jadi ada (penambahan) 500 kasus,” kata Pandu kepada Tempo, Ahad, 24 Mei 2020.

    Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada 21 Mei 2020 menyebutkan penambahan kasus positif untuk pertama kalinya mencapai angka tertinggi, yaitu 973 kasus. Angka tersebut disumbangkan oleh Jawa Timur dengan 502 kasus.

    Pandu mengatakan laboratorium di Jawa Timur tidak segera melaporkan hasil pemeriksaan spesimen sampai tiga hari. “Tidak jelas kenapa,” ujarnya.

    Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, melalui akun Instagramnya, mengakui ada penumpukan hasil tes spesimen Covid-19 selama tiga hari, sejak 18-20 Mei 2020. “Ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapasitas tes PCR swab,” ujar Emil.

    Dalam keterangan yang diunggahnya, sebanyak 96,2 persen atau 488 dari penambahan 502 kasus diumumkan oleh Institute of Tropical Disease (ITD). Alasannya, karena ITD tidak melaporkan sejak 19 Mei. Sehingga, kumulatif kasus sejak 18-20 Mei baru diumumkan pada 21 Mei lalu.

    Pemprov Jatim kemudian memberikan 10 ribu reagen PCR untuk mengatasi penumpukan. Selain itu, Pemerintah memberlakukan sistem zonasi laboratorium yang diatur berdasarkan bakorwil, penambahan lab baru, dan pembagian cartridge TCM (tes cepat molekuler).

    Dengan sistem zonasi, ITD ke depan hanya menerima sampel Covid dari Surabaya Raya dan Madura untuk mencegah terjadinya penumpukan sampel.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perkiraan Ukuran Tubuh Megalodon, Pemangsa Zaman Purba

    Setelah berbagai macam penelitian yang dilakukan para ahli, akhirnya mereka bisa menyimpulkan perkiraan ukuran tubuh Megalodon, sang hiu purba.