ICW: KPK Stop Penyelidikan 36 Kasus, Masyarakat Makin Tak Percaya

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Firli Bahuri memberikan pemaparan kinerja dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. Rapat tersebut membas rencana kinerja KPK tahun 2020, pengelolaan SDM, tugas Dewan Pengawas dalam pelaksanaan tugas dan wewenangKPK serta sinergitas koordinasi dengan Pimpinan KPK dalam lingkup pengawasan yang diikuti oleh jajaran Pimpinan KPK dan Dewan Pengawas KPK. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ketua KPK Firli Bahuri memberikan pemaparan kinerja dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 27 Januari 2020. Rapat tersebut membas rencana kinerja KPK tahun 2020, pengelolaan SDM, tugas Dewan Pengawas dalam pelaksanaan tugas dan wewenangKPK serta sinergitas koordinasi dengan Pimpinan KPK dalam lingkup pengawasan yang diikuti oleh jajaran Pimpinan KPK dan Dewan Pengawas KPK. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Corruption Watch (ICW) menyatakan bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semakin tidak dipercaya oleh masyarakat setelah mengumumkan penghentian penyelidikan 36 kasus. Koordinator ICW Adnan Topan mengatakan, ketidakpercayaan itu semakin kuat lantaran publik melihat langkah KPK yang kontradiktif.

    "Semakin blunder karena pada saat yang sama kerja KPK dengan pimpinan yang baru, belum menunjukkan kinerja penegakan hukumnya," kata Adnan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat pada Ahad, 23 Februari 2020.

    Sejak dilantik sebagai Ketua KPK pada Desember 2019, Firli Bahuri cs hanya menangani dua kasus yaitu dugaan suap yang melibatkan Komisi Pemilihan Umum dan Harun Masiku, serta kasus suap pengadaan barang dan jasa yang menyeret Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah.

    Adnan mengatakan, saat ini publik tak melihat ada perkembangan terhadap kasus baru. Namun, di saat yang sama, KPK justru mengumumkan telah menghentikan penyelidikan 36 kasus. "Ini semacam sesuatu yang dianggap kontradiktif."

    Menurut dia, strategi yang keliru jika pengumuman penghentian kasus diumumkan ke publik, dianggap KPK sebagai salah satu untuk meningkatkan kepercayaan. Sebab, publik, khususnya para jurnalis, justru akan semakin mengejar informasi ihwal 36 kasus tersebut. "Kalaupun KPK evaluasi strategi ini, misalnya ke depan tidak lagi menyampaikan, publik akan tanya lagi kok kemarin ngomong sekarang tidak. Serba salah, blunder."

    Adnan menyebut, masyarakat juga akan curiga lagi kepada KPK. Ia mencontohkan, ketika kasus yang menyeret anggota Dewan Perwakilan Rakyat menjadi salah satu kasus yang dihentikan, maka masyarakat cenderung akan curiga. "Ini bayar apa yang dijanjikan dalam fit and propert test, misalnya. Kalau tidak dimitigasi, tergerus kepercayaan publik."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.