Cerita Korban Selamat Musibah Susur Sungai: Lihat Teman Hanyut

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sungai Sempor, Donokerto Turi Sleman tempat tragedi susur sungai yang menewaskan sejumlah siswa SMPN 1 Turi pada Jumat sore, 21 Februari 2020. Tempo/Pribadi Wicaksono

    Sungai Sempor, Donokerto Turi Sleman tempat tragedi susur sungai yang menewaskan sejumlah siswa SMPN 1 Turi pada Jumat sore, 21 Februari 2020. Tempo/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Seorang siswi kelas 7 SMPN 1 Turi Sleman, Syifa, 13 tahun, menceritakan musibah yang telah merenggut nyawa teman-temannya kala mengikuti kegiatan susur sungai di Sungai Sempor, Sleman, Jumat sore 21 Februari 2020.

    Dalam peristiwa itu, 9 siswa SMPN 1 Turi meregang nyawa digulung arus sungai dan satu siswa lain masih belum ditemukan.

    "Saya selamat, setelah pegangan ranting pohon di pinggir sungai selama 15 menit. Airnya segini," ujar siswa itu sambil menunjuk bagian dadanya.

    Syifa ingat bagaimana kegiatan yang awalnya dikira seru itu jadi bencana. Salah satu rekannya, Khoirunisa pun menjadi korban.

    Rombongan siswa sekolah itu tiba di lokasi Sungai Sempor yang berjarak sekitar dua kilometer dari sekolahnya sekitar pukul 14.30.WIB. Suasana saat itu habis hujan dan tinggi permukaan sungai masih sedengkul para siswa itu.

    Dibagi per kelompok yang beranggotakan 15 orang, para siswa mulai turun per kelompok ke sungai yang menjadi tempuran Sungai Bedog itu. Setiap kelompok siswa didampingi dua orang kakak kelas yang jadi pembina pramuka.
    Ada yang menyusur lewat pinggir ada yang di tengah.

    "Semua kelompok sudah turun ke sungai. Saya di kelompok belakang, Khoirunisa di depan," kata Syifa.

    Setelah berjalan kurang lebih 30 menit, volume air sungai lama-lama naik hingga nyaris menenggelamkan seluruh tubuh siswa. "Arus saat itu sudah deras sekali, banyak yang kintir (terbawa arus) karena nggak bisa dapat pegangan," ujar Syifa.

    Syifa pun melihat rekan-rekannya yang tak dapat pegangan bablas terbawa arus hingga tak terlihat lagi.

    Hal serupa diungkapkan rekannya yang lain, Rameyza Widya Elya (13). Saat melayat ke rumah duka salah satu korban tewas, kaki remaja itu tampak masih penuh luka. "Saya selamat karena berusaha naik tebing pinggir sungai," ujarnya.

    Rameyza mengatakan dalam kegiatan itu siswa benar-benar tak tahu dan belajar sebelumnya apa itu susur sungai. Yang mereka ketahui, kegiatan Pramuka itu mengenal alam walaupun tanpa satu alat pengaman apapun.

    "Enggak pakai pelampung dan alat pengaman, langsung terjun ke sungai dan berjalan sampai airnya lama-lama tinggi dan teman teman hanyut," kata Rameyza.

    Dua siswa itu mengaku ikut kegiatan itu karena takut jika melewatkannya akan kena marah kakak pembinanya dan mendapat sanksi. "Orang tua akan dipanggil kalau nggak ikut kegiatan ini," ujarnya.

    Sampai Sabtu siang, tim pencari gabungan tragedi Sungai Sempor telah menemukan sebanyak 9 korban tewas. Satu lainnya masih dilaporkan hilang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.