WNI Eks ISIS: Kalau Jawabannya Pulang ke Indonesia, Alhamdulillah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana pengungsian WNI eks ISIS di Al-Hawl, Suriah, 23 Mei 2019. TEMPO/Hussein Abri Dongoram

    Suasana pengungsian WNI eks ISIS di Al-Hawl, Suriah, 23 Mei 2019. TEMPO/Hussein Abri Dongoram

    TEMPO.CO, Jakarta - WNI Eks ISIS, Aleeyah Mujahid, bukan nama sebenarnya, mengatakan bersyukur jika pemerintah Indonesia mau memulangkan dia dan kawan-kawannya yang berada di kamp pengungsian di Rojava.

    Sudah sekitar 2 tahun, Aleeyah bersama 13 WNI lainnya tinggal di kamp itu. Ia mengaku terus berdoa dan berharap bisa keluar dari wilayah itu ke tempat lebih baik. “Kalau jawabannya pulang ke Indonesia, alhamdulillah,” kata Aleeyah lewat media sosial pada Jumat, 7 Februari 2020. Ia mengizinkan Tempo mengutip curhatannya.

    Ia memutuskan untuk ke Suriah dan bergabung dengan ISIS pada Desember 2015. “Tujuan gue? Kehidupan yang lebih baik. Better life di kacamata gue itu bukan soal ekonomi, tapi soal keselamatan agama gue,” kata Aleeyah.

    Sebelum berangkat ke Suriah, Aleeyah membekali diri dengan mencari situs konsultasi tentang Islam. Hingga akhirnya pada Agustus 2015, pencariannya itu menyasar ke sebuah situs dari ISIS yang membahas soal hijrah.

    “Patut gue akui, gaya bahasa dan tulisan yang mereka umbar di media sebagai nilai jual dan daya tarik mereka emang cantik dan ciamik. Bikin gue mikir, apa ini jawaban dari kebimbangan gue? Apa ini jawaban dari pencarian gue?” katanya.

    Aleeyah kemudian mulai menyiapkan keberangkatan pertamanya ke luar negeri sendirian. Mulai dari membuat paspor, mencari tiket pesawat, memesan hotel, hingga mendapatkan visa Turki.

    Orang tuanya tahu bahwa ia akan pergi ke Turki. Namun tidak tahu bahwa anaknya tak berencana kembali ke Indonesia. Lulusan Universitas Muhammadiyah itu dibekali uang ratusan dolar dari orang tuanya. “Tapi gue sebenarnya ngantongin lebih.”

    Pada 8 Desember 2015 dinihari, Aleeyah meninggalkan Jakarta menuju Istanbul, Turki. Ia kemudian mencari kontak pemuda yang bisa membantunya menyeberang ke Suriah bagian wilayah ISIS. Kontak pemuda tersebut menjamur di Twitter. Ia teringat suasana perbatasan Turki dan Suriah yang gelap, tanpa penerangan sama sekali. “Gue sampai keder ini langkah gue lurus apa belak belok. Entah. Dingin, berduri,” ujarnya 

    Selama lima bulan menjalani kehidupan di bawah ISIS, ekspektasi tinggi ia dan suaminya tentang kehidupan ‘ala minhaj annubuwwah pun dibayar kekecewaan. Ia mengatakan kebobrokan ISIS mulai nampak setelah kejatuhan Mosul pada akhir Oktober atau awal November 2016. Ia melihat masih banyak kebohongan dan kedzaliman yang menjamur.

    Setelah lebih dari satu tahun tinggal di Albu Kamal, Aleeyah bersama suami dan anaknya pindah ke Baghouz, yang jaraknya sekitar 12 kilometer dari tempat tinggal sebelumnya. Beberapa bulan sebelum hengkang dari wilayah itu, ISIS digempur habis-habisan.

    Aleeyah lalu diminta suaminya untuk keluar lebih dulu bersama anak mereka lewat jalur yang resmi. Pada Desember 2017, Aleeyah dan anaknya bersama sejumlah perempuan di sana akhirnya diangkut dengan truk.

    Naasnya, perjalanan itu juga tak mulus lantaran truk disetop oleh sekumpulan orang berseragam tentara dengan emblem YPG, organisasi militer Partai Persatuan Demokratik di Suriah yang mengendalikan sebagian besar wilayah Rojava.

    Selanjutnya, Aleeyah enggan menceritakan kejadian miris yang dialaminya ketika itu, sampai akhirnya ia pun dipindahkan ke kamp pengungsian Rojava, Suriah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peta Bencana Sejumlah Sudut Banjir Jakarta di Akhir Februari 2020

    Jakarta dilanda hujan sejak dini hari Rabu, 25 Februari 2020. PetaBencana.id melansir sejumlah sudut yang digenangi banjir Jakarta hingga pukul 15.00.