Nadiem Makarim Optimistis Kampus Merdeka Dorong Penelitian

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kiri ke kanan: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, dan Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Nizam dalam konferensi pers usai peluncuran program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka di Gedung D, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 24 Januari 2020. TEMPO/Ahmad Faiz

    Kiri ke kanan: Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, dan Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Nizam dalam konferensi pers usai peluncuran program Merdeka Belajar: Kampus Merdeka di Gedung D, Kompleks Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 24 Januari 2020. TEMPO/Ahmad Faiz

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan inovasi dan penelitian merupakan dua hal yang saling berkaitan. Inovasi yang efisien, tepat sasaran, dan memiliki daya ungkit yang tinggi menjadi prioritas riset dan penelitian nasional.

    “Perguruan tinggi harus diberikan kepercayaan untuk melakukan inovasi ini, jadi seluruh kampus merdeka ini bisa mengakselerasi proses research. Di Kampus Merdeka, kami buka kesempatan tiga semester dari delapan semester bagi mahasiswa melakukan immersive learning di luar prodi, salah satunya dia bisa mengambil research project,” kata Nadiem melalui siaran pers yang diterima Tempo pada Senin, 3 Februari 2020.

    Hal ini disampaikan Nadiem dalam Rapat Koordinasi Nasional Kemenristek/Badan Riset Inovasi Nasional pada Rabu-Kamis, 29 - 30 Januari 2020 di Komplek Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek), Serpong, Tangerang Selatan.

    Nadiem mengatakan, kebijakan Kampus Merdeka menjadi jawaban agar inovasi dan penelitian tumbuh dalam ekosistem yang saling mendukung. Nadiem optimistis kebijakan ini menjembatani peluang yang lebih besar bagi mahasiswa dan perguruan tinggi untuk terlibat di bidang penelitian dan teknologi.

    Dalam Rakornas yang sama, Menteri Riset, Teknologi/Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang PS Brodjonegoro menyambut baik kebijakan Kampus Merdeka. Dia berharap, peneliti bebas meneliti sesuai kapasitasnya tanpa terbebani dengan urusan administrasi keuangan.

    “Peneliti itu butuh ide-ide yang bebas lepas untuk kemudian dieksplor dan diuji dan sekarang dosen peneliti dari berbagai bidang tidak perlu lagi menjadi akuntan hanya untuk menyelesaikan laporan pertanggungjawaban riset, karena sekarang sistemnya output base,” ujarnya.

    Bambang menambahkan, pokok kebijakan Kampus Merdeka yang bertujuan memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya sejalan dengan harapan Kemenristek/BRIN yang ingin mendorong demokratisasi penelitian. Karena itu, ia mendukung sinergi Kemendikbud dengan Kemenristek dengan harapan capaian unversitas kelas dunia dapat terlaksana melalui riset.

    “Data memperlihatkan bahwa peneliti paling banyak ada di PTN BH. Maka tanpa partisipasi aktif dan konstruktif dari PTN dan PTS dalam melakukan penelitian, impian untuk meraih QS world ranking akan sulit tercapai,” ujar Bambang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.