Korban Longsor di Kabupaten Bogor Akan Direlokasi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana perkampungan rawan bencana tanah longsor di Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 13 Januari 2020. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan merelokasi sedikitnya dua ribu Kepala Keluarga dari 11 Desa di Kecamatan Sukajaya. ANTARA

    Suasana perkampungan rawan bencana tanah longsor di Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin, 13 Januari 2020. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan akan merelokasi sedikitnya dua ribu Kepala Keluarga dari 11 Desa di Kecamatan Sukajaya. ANTARA

    TEMPO.CO, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk merelokasi warga yang terdampak tanah longsor ke area yang lebih aman.

    "Kemarin saya ngobrol dengan Pak Menteri (Menteri PUPR Basuki Hadimuljono), Bu Ade (Bupati Bogor), nanti dihitung saja secara realistis. Kalau mau dikasih hunian sementara, titik (daerah mana saja) yang sanggup melakukan itu," kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Jumat, 17 Januari 2020.

    Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Bogor, ada 19.821 warga terdampak tanah longsor di Kecamatan Sukajaya, Jasinga, Nanggung, dan Cigudeg. Saat ini, mereka masih mengungsi karena rumah mereka masih membahayakan jika ditempati.

    Menurut Ridwan, kondisi itu yang memunculkan gagasan untuk memindahkan warga terdampak longsor di empat kecamatan itu ke daerah yang lebih aman. Ia pun mengaku sudah meminta Pemerintah Kabupaten Bogor mendata rumah warga yang sudah tidak bisa dihuni serta mengklasifikasikan data berdasarkan tingkat kerusakan.

    Selain itu, Ridwan menginstruksikan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menentukan lokasi relokasi dan mengeluarkan Surat Keputusan (SK) berkenaan dengan hal itu. "Memang isu hunian sementara belum pernah dibahas. Tapi, kalau itu menjadi solusi, kita kira fleksibel untuk mencari yang terbaik buat rakyat sambil (menunggu) hunian tetap. Yang paling ideal di satu lokasi. Nanti PTPN saya coba koordinasi," ujarnya.

    Selanjutnya, kata Ridwan, setelah ada SK Bupati mengenai data warga yang harus direlokasi dan lokasi relokasi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat bisa mulai membangun rumah untuk warga yang permukimannya tidak lagi bisa ditempati.

    Bupati Bogor Ade Yasin sebelumnya menyatakan pihaknya sedang mendata dampak bencana di wilayahnya, termasuk mendata kerusakan rumah warga yang terdampak tanah longsor dan permukiman yang tidak aman dari tanah longsor. "Kita masih data, karena harus valid datanya, harus diulangi, ulangi, ulangi lagi. Makanya, kita menginstruksikan kepada kepala desa untuk mendata dari berbagai klasifikasi. Dari rusak ringan sampai rusak berat sampai tanahnya bisa dihuni atau tidak," kata dia.

    Ade juga mengatakan pihaknya mengupayakan penyediaan hunian sementara (huntara) bagi warga yang permukimannya kena dampak longsor. "Kalaupun tidak ada tempat atau lokasi untuk disewa, terpaksa kita bangun huntara. Walau sebenarnya tidak ada huntara, tapi kita maksimalkan dititip di rumah-rumah penduduk dengan sewa. Itu yang sedang kita data," ujarnya.

    Pemerintah Kabupaten Bogor memperpanjang masa tanggap darurat bencana longsor sampai 30 Januari mendatang untuk mempercepat penanggulangan dampak bencana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.