Begini Kejadian Tragedi Semanggi yang Disangkal Jaksa Agung

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wartawan yang menjadi korban penembakan aparat saat terjadi kerusuhan di jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. TEMPO/ Rully Kesuma

    Wartawan yang menjadi korban penembakan aparat saat terjadi kerusuhan di jembatan Semanggi, Jakarta, 1998. TEMPO/ Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Agung Sianitar Burhanudin dibanjiri kritik setelah menyatakan bahwa tragedi Semanggi I dan Semanggi I bukan pelanggaran HAM berat.

    Pernyataan itu dilontarkan Burhanuddin dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI pada Kamis, 16 Januari 2020.

    KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) menilai Burhanuddin mencoba menyangkal dan lari dari tanggungjawabnya untuk menyelidiki perkara pelanggaran HAM berat.

    Komisioner Komnas HAM Choirul Anam pun bereaksi keras.

    Anam menyarankan Jaksa Agung memeriksa kembali informasi yang diperolehnya dan melakukan klarifikasi.

    Menurut Anam, hasil penyelidikan Komnas HAM menyatakan peristiwa Semanggi I dan II adalah pelanggaran HAM berat.

    Berkas itu juga telah diserahkan kepada Kejaksaan dalam laporan penyelidikan pro justitia untuk Peristiwa Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II.

    "Juga telah mendapatkan respons dari Kejaksaan Agung bahwa kasus Semanggi adalah kasus pelanggaran HAM yang berat," ujar Anam dalam keterangan tertulisnya.

    Tragedi Semanggi I terjadi di seputar Sidang Istimewa MPR pada 11-13 November 1998.

    Puluhan ribu mahasiswa dan masyarakat yang menolak pelaksanaan SI MPR turun ke jalan. Mereka tak mengakui pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie dan tidak percaya dengan para anggota DPR/MPR Orde Baru.

    Masyarakat juga menuntut penghapusan dwifungsi ABRI.

    Pada hari ketiga demonstrasi aparat TNI dan Polri berupaya membubarkan massa yang bertahan di sekitar Gedung DPR/MPR.

    Saat itulah diduga terjadi penembakan membabi buta terhadap mahasiswa yang sedang duduk di jalan. Salah satu korban yang tewas di tempat adalah Teddy Wardhani Kusuma, mahasiswa Institut Teknologi Indonesia (ITI).

    Mahasiswa kemudian lari ke kampus Universitas Atma Jaya untuk berlindung dan merawat yang terluka.

    Di kampus itu jatuh korban penembakan kedua, yaitu Bernardus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya.

    Dia ditembak dengan peluru tajam di dadanya dari arah depan saat ingin menolong rekannya yang terluka di pelataran parkir Kampus Universitas Atma Jaya.

    Dalam peristiwa ini diperkirakan ada 17 mahasiswa yang meninggal.

    Adapun tragedi Semanggi II terjadi pada September 1999. Kala itu mahasiswa kembali turun ke jalan menolak pemberlakuan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB).

    Dalam demonstrasi 24 September 1999, seorang mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Yap Yun Hap tewas ditembak di pinggir trotoar depan Rumah Sakit Jakarta, Semanggi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.