PPP: Ambang Batas Parlemen Hampir Pasti Naik Jadi 5 persen

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. ANTARA

    Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaksana tugas Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Suharso Monoarfa mengatakan akan ada kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dari 4 persen menjadi 5 persen untuk Pemilu 2024. "Parlimentary threshold pasti naik di lima persen. Lima persen saya kira," kata Suharso di kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu, 4 Januari 2020.

    Meski belum menjadi kesepakatan partai-partai di parlemen dan belum dihahas di parlemen, kata Suharso, kenaikan itu hampir pasti terjadi. “Hampir pasti larinya ke sana.”

    Suharso mengatakan PPP bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan menjadi 5 persen itu. Dari hasil Pemilu 2019, partai kakbah ini hanya meraup 4,52 persen suara, mepet dengan ambang batas parlemen sebesar 4 persen.

    Usul kenaikan ambang batas parlemen ini pernah dikemukakan partai politik lainnya, di antaranya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa. Alasannya adalah demi penyederhanaan kelembagaan politik di Indonesia.

    Politikus PKB Lukman Edy pada 2016 bahkan sudah mengusulkan ambang batas parlemen menjadi 5 persen. Menurut dia, jumlah partai politik yang terlalu banyak di DPR mempersulit pengambilan keputusan.

    Ambang batas parlemen menjadi momok bagi partai-partai kecil dan baru. Dari hasil Pemilu 2019 dengan ambang batas parlemen sebesar 4 persen, ada sejumlah partai yang tak lolos ke Senayan akibat tidak mencapai perolehan 4 persen suara nasional. Partai-partai itu adalah Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Partai Hanura, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Garuda, Partai Berkarya, dan Partai Bulan Bintang.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona Menyebabkan Wabah Mirip SARS di Kota Wuhan, Cina

    Kantor WHO cabang Cina menerima laporan tentang wabah mirip SARS yang menjangkiti Kota Wuhan di Cina. Wabah itu disebabkan virus korona jenis baru.