Hari Ini, Kejaksaan Agung Periksa 3 Saksi Jiwasraya. Siapa Saja?

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. Tempo/Tony Hartawan

    Kantor Pusat Asuransi Jiwasraya di kawasan Harmoni, Jakarta. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Adi Toegarisman mengatakan Kejaksaan Agung tengah memeriksa tiga orang saksi terkait kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya pada Senin, 30 Desember 2019. 

    Dua orang berasal dari pihak swasta yaitu Stephanus Turangan dan Yosep Chandra dan seorang dari Jiwasraya yaitu Eldin Rizal Nasution.

    Eldin Rizal Nasution merupakan mantan Kepala Pusat Bancassurance PT Asuransi Jiwasraya. Sedangkan Stephanus Syam merupakan Direktur Utama PT Trimegah, dan Yosep Chandra Direktur Utama PT Prospera.

    "Seharusnya kami memeriksa Asmawi Syam, namun ternyata dia sudah diperiksa Jumat lalu," kata Adi, Senin, 30 Desember 2019. Asmawi Syam merupakan Mantan Direktur Utama Jiwasraya.

    Asmawi Syam dan Eldin Rizal Nasution masuk ke dalam daftar sepuluh orang yang dicekal oleh Kejaksaan Agung.

    Delapan nama lain menurut keterangan seorang penegak hukum adalah Hendrisman Rahim, De Yong Adrian, Hary Prasetyo, Muhamad Zamkhani, Djonni Wiguna, Getta Leonardo Arisanto, Heru Hidayat, Benny Tjokrosaputro.

    PT Asuransi Jiwasraya (Persero) melalui unit kerja pusat Bancassurance dan Aliansi Strategis menjual produk JS Saving Plan dengan tawaran persentase bunga tinggi (cenderung di atas nilai rata-rata), berkisar antara 6,5 persen sampai dengan 10 persen, sehingga memperoleh pendapatan total dari premi sebesar Rp 53,27 triliun.

    Potensi kerugian negara dari dugaan tindak pidana korupsi dalam pengelolaan keuangan dan dana investasi PT Asuransi Jiwasraya (Persero) hingga Agustus 2019 diperkirakan mencapai Rp 13,7 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.