Mahfud Md Sebut Setelah Pilpres Ujaran Kebencian Turun 80 Persen

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD bersama Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo, saat memberikan bantuan kompensasi kepada empat korban tindak pidana terorisme, di Kantor Kemenko Polhukam, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Desember 2019. Tempo/Egi Adyatama

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD bersama Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo, saat memberikan bantuan kompensasi kepada empat korban tindak pidana terorisme, di Kantor Kemenko Polhukam, di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat, 13 Desember 2019. Tempo/Egi Adyatama

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan ujaran kebencian telah berkurang secara drastis setelah Pemilihan Presiden 2019 berakhir.

    "Alhamdulillah berdasarkan pantauan kami sekarang ini, tadi presiden mengatakan, sekarang peristiwa-peristiwa ujaran kebencian yang sifatnya intoleran itu turun 80 persen," kata Mahfud saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 26 Desember 2019.

    Mahfud mengatakan faktor selesainya Pilpres bisa menjadi salah satu faktor yang menekan terjadinya ujaran kebencian. Ia mengatakan polarisasi di antara masyarakat sangat kuat terjadi saat Pilpres. Momen bergabungnya dua kubu besar yaitu, Jokowi dan Prabowo saat Pilpres, di pemerintahan ini, ia sebut sangat berpengaruh pada bersatunya kembali masyarakat.

    "Terlepas dari saudara, saya, tidak setuju dengan penggabungan itu, tetapi ternyata efeknya bagus. Sejak pelantikan kabinet itu tidak ada peristiwa yang gaduh banget," kata Mahfud.

    Mahfud mengatakan ujaran kebencian yang intoleran memang tak lagi mendapat tempat. Bersatunya dua kubu yang sempat terpecah karena Pilpres, membuat ruang ujaran kebencian tertutup.

    "Akhir-akhir ini kan berkurang krn memang tidak bisa berteriak-berteriak intoleran berteriak sistem lain tanpa dasar yang kuat dan tanpa persetujuan rakyat umum lebih banyak," kata dia.

    Mahfud mengatakan faktor ini bisa jadi bukan merupakan faktor tunggal. Namun hal tersebut bisa menjadi pelajaran. Mahfud mengatakan akan mengevaluasi lebih jauh terkait perubahan tren ujaran kebencian yang semakin menurun ini.

    "Faktor yang mendorong itu nanti akan kita pakai untuk membangun lagi ke depan," kata Mahfud.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?