Moeldoko Bantah Isu Jokowi Bentuk Geng Solo di Polri

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Pol Idham Azis menyematkan tanda pangkat kepada Kabareskrim Polri Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo saat serah terima jabatan Kabareskrim di Mabes Polri Jakarta, Senin 16 Desember 2019. Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo diangkat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal menggantikan pejabat sebelumnya yakni Jenderal Pol Idham Azis yang diangkat Presiden Joko Widodo menjadi Kapolri. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Kapolri Jenderal Pol Idham Azis menyematkan tanda pangkat kepada Kabareskrim Polri Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo saat serah terima jabatan Kabareskrim di Mabes Polri Jakarta, Senin 16 Desember 2019. Inspektur Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo diangkat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal menggantikan pejabat sebelumnya yakni Jenderal Pol Idham Azis yang diangkat Presiden Joko Widodo menjadi Kapolri. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko membantah isu bahwa Presiden Joko Widodo atau Jokowi membentuk geng Solo di pucuk kepemimpinan Polri.

    Menurut Moeldoko, Jokowi memilih orang-orang yang dianggap telah teruji loyalitasnya, kapasitas, serta integritasnya untuk menempati jabatan-jabatan strategis.

    "Tidak mungkin sebuah jabatan yang sangat strategis itu dipertaruhkan sembarangan orang," ujar Moeldoko di kantornya, Senin, 23 Desember 2019.

    Tudingan Jokowi membentuk geng Solo ini disampaikan Indonesia Police Watch menyusul pemilihan Kapolda Nusa Tenggara Barat Irjen Pol Nana Sudjana untuk menduduki kursi Kapolda Metro Jaya. Adapun Nana pernah menjabat sebagai Kapolresta Solo saat Jokowi masih sebagai Wali Kota di kota tersebut.

    Selain Nana, Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo yang baru-baru ini menjabat sebagai Kabareskrim juga disorot. Diketahui, Listyo sempat menjabat sebagai Kapolrestas Solo dan juga pernah menjadi ajudan Jokowi.

    Moeldoko menyebut, sah-sah saja jika orang-orang yang dulu dekat dengan Jokowi, kini mendapat posisi strategis berdasarkan pertimbangan loyalitas, kapasitas, dan integritas.

    "Seperti saya saat menjadi Panglima, tentu saya mengenali orang-orang yang dulu pernah bekerja dengan saya dan memiliki prestasi yang baik sehingga pada saat terjadi panglima mereka-mereka ini bisa saya tunjuk sebagai asisten saya," ujar Moeldoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?