Tak Bisa Maju Wali Kota Solo Lewat DPC PDIP, Gibran: Lewat DPP

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gibran Rakabuming Raka bersiap menyerahkan berkas pendaftaran anggota PDI Perjuangan di kantor DPC PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Senin, 23 September 2019. Gibran tampak mengenakan kemeja dengan gambar visualisasi sejumlah Pahlawan Nasional. ANTARA/Mohammad Ayudha

    Gibran Rakabuming Raka bersiap menyerahkan berkas pendaftaran anggota PDI Perjuangan di kantor DPC PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Senin, 23 September 2019. Gibran tampak mengenakan kemeja dengan gambar visualisasi sejumlah Pahlawan Nasional. ANTARA/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Jakarta - Anak Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, keukeuh maju sebagai calon Wali Kota Surakarta meski DPC PDIP Solo sudah menutup pintu.

    Putra sulung Jokowi itu menyatakan akan tetap maju lewat jalur Dewan Pimpinan Pusat (DPP) atau Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PDIP.

    "Saya tetap maju dari PDIP. Lewat DPD atau DPP. Enggak mungkin independen," ujar Gibran di Kompleks Parlemen, Senayan pada Ahad, 20 Oktober 2019.

    Gibran juga mengaku sudah melobi partai-partai selain PDIP untuk melancarkan langkahnya menuju kursi Solo 1. "Ya semua-semuanya," ujar Gibran
    ketika ditanya partai mana saja yang sudah dilobi.

    Pengusaha katering itu mendaftar sebagai anggota partai di kantor DPC PDIP Solo pada akhir September 2019. Ia juga sekaligus mendaftar dalam bursa penjaringan bakal calon wali kota dan wakil wali kota melalui partai banteng tersebut. Tapi, penjaringan ternyata telah ditutup. DPC PDIP Solo mengusulkan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa ke DPP PDIP.

    Gibrantidak bisa lagi mengikuti penjaringan di kepengurusan partai tingkat kota. Meski demikian dia mengatakan telah berkonsultasi ke beberapa tokoh senior PDIP dan hasilnya, dia bisa mengajukan diri lewat pengurus pusat PDIP.

    Gibran mengatakan serius mengikuti bursa Wali Kota Solo. Bahkan, saat ini telah menyerahkan beberapa usahanya untuk ditangani adiknya, Kaesang Pangarep agar bisa lebih fokus di politik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.