Demo Mahasiswa, Sumarsih: Kekerasan Masih Terjadi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumarsih, Ibunda korban tragedi Semanggi, Wawan saat melakukan aksi kamisan ke-575 di depan Istana Negara, Jakarta, 21 Februari 2019. Dalam aksi tersebut mereka menolak kembalinya dwi fungsi Militer melalui penempatan TNI di Kementerian serta menuntut pemerintah menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Sumarsih, Ibunda korban tragedi Semanggi, Wawan saat melakukan aksi kamisan ke-575 di depan Istana Negara, Jakarta, 21 Februari 2019. Dalam aksi tersebut mereka menolak kembalinya dwi fungsi Militer melalui penempatan TNI di Kementerian serta menuntut pemerintah menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Maria Katarina Sumarsih, ibunda BR Norma Irmawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta yang tewas dalam Tragedi Semanggi I angkat bicara demo mahasiswa di depan Gedung DPR, Jakarta, pada Selasa, 24 September 2019. Ia mengaku kecewa setelah 21 tahun reformasi, dugaan kekerasan oleh aparat masih terjadi dalam demo tersebut.

    "Kami merasa 21 tahun reformasi namun kekerasan terus terjadi, hingga saat ini masih banyak teman-teman kita yang berupaya untuk memulihkan kesehatannya," kata Sumarsih di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jakarta, Rabu, 25 September 2019.

    Kemarin, demonstrasi mahasiswa menolak pengesahan sejumlah Rancangan Undang-Undang dan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi memang berakhir ricuh. Kericuhan terjadi tak hanya di Jakarta, tetapi juga di Bandung, Makassar dan Malang. Aksi tersebut diwarnai dugaan kekerasan oleh aparat. Video dugaan kekerasan itu menyebar melalui media sosial.

    Sumarsih mengatakan kerusuhan kemarin mengingatkannya dengan tragedi Semanggi II. Tepat 20 tahun lalu, 24 September 1999, mahasiswa Universitas Indonesia, Yun Hap tewas ditembak saat berunjuk rasa di sekitar kampus Universitas Atma Jaya, Jakarta Pusat.

    Menurut Sumarsih, kekerasan yang terus terjadi berulang-ulang ini yang menjadi alasannya terus menuntut pemerintah menuntaskan kasus penembakan terhadap anaknya. Ia mengatakan penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu penting, agar kejadian serupa tak terulang di masa depan.

    Ia berharap para penguasa memperbaiki moralnya. Ia meminta agar pemerintah memiliki keberpihakan terhadap rakyat. "Agar apa yang mereka kerjakan akan berpihak pada masyarakat bukan memperkuat kekuasaan," ujar Sumarsih.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.