Menteri Agama: Belakangan Ceramah Mbah Moen Banyak Soal Persatuan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kedua kanan), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua kiri), Ulama KH Maimun Zubair atau Mbah Moen (ketiga kanan) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kanan) hadir dalam Haul Gus Dur ke-9 di kediaman Gus Dur di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. ANTARA

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (kedua kanan), Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (kedua kiri), Ulama KH Maimun Zubair atau Mbah Moen (ketiga kanan) dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (kedua kanan) hadir dalam Haul Gus Dur ke-9 di kediaman Gus Dur di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin mengatakan dalam ceramah pada hari-hari terakhir ulama K.H. Maimun Zubair atau Mbah Moen mengangkat topik menjaga keutuhan persaudaraan bangsa Indonesia.

    "Kalau saya cermati ceramahnya itu banyak berbicara tentang bagaimana kita semua senantiasa menjaga keutuhan, persaudaraan sebangsa, menjaga kesatuan Indonesia kita, cinta kepada tanah air," kata Lukman di Mekah pada Selasa, 6 Agustus 2019.

    Lukman yang juga bertindak sebagai Amirul Hajj mengatakan Maimun menyampaikan ceramahnya berbasis argumentasi keilmuan dan keislaman.

    Menurut Lukman, hal itu menandakan cinta Mbah Moen kepada Tanah Air. Dia mengatakan masyarakat Indonesia harus mengikhlaskan kepulangan Maimun kepada Sang Khalik.

    "Tentu kita berharap ada pengganti-pengganti beliau di kemudian hari yang dilanjutkan oleh santri-santrinya," kata Lukman.

    Mbah Moen wafat pada Selasa, 6 Agustus 2019 pagi di Mekkah. Rencananya jenazah akan di makamkan di sana.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.