ICW Minta Jokowi Tak Anjurkan Gibran Terjun Politik Praktis

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI Jokowi (kedua kanan) bersama cucunya Jan Ethes (kanan) dan Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti (ketiga kanan) serta putra pertamanya, Gibran Rakabuming mengunjungi Gedung Agung Yogyakarta, Kamis, 6 Juni 2019. Ethes merupakan cucu pertama Jokowi dari putra sulungnya. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    Presiden RI Jokowi (kedua kanan) bersama cucunya Jan Ethes (kanan) dan Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti (ketiga kanan) serta putra pertamanya, Gibran Rakabuming mengunjungi Gedung Agung Yogyakarta, Kamis, 6 Juni 2019. Ethes merupakan cucu pertama Jokowi dari putra sulungnya. ANTARA/Andreas Fitri Atmoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Kordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz mendorong Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak menganjurkan kedua putranya, Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep, terjun ke kontes politik praktis guna mencegah citra politik dinasti.

    "Menurut saya sebaiknya Jokowi tidak memperbolehkan putranya terlibat di dalam politik praktis sekarang ini," kata Donal saat ditemui di Jakarta, Selasa, 30 Juli 2019.

    Donal menilai hal itu tidak positif bagi citra Presiden Jokowi yang selama ini melarang anak-anaknya untuk berpolitik praktis.

    Pelarangan itu, lanjut dia, bertujuan agar tidak muncul tudingan mantan Gubernur DKI Jakarta itu sedang membangun politik dinasti.

    "Sebab kebanyakan politisi-politisi yang lain menggunakan posisi politiknya agar anak-anaknya mendapatkan jabatan yang strategis," kata Donal.

    Sebelumnya diberitakan, Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi Solo menjaring nama-nama yang potensial untuk dicalonkan sebagai Wali Kota Surakarta melalui focus group discussion dan kemudian nama-nama itu disurvei.

    Dalam survei tersebut, Gibran memiliki popularitas tertinggi yang mencapai 90 persen. Dia bersaing dengan Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo dengan tingkat popularitas yang hampir sama. Sedangkan Kaesang berada di urutan ketiga dengan tingkat popularitas 86 persen.

    Menanggapi survei itu Jokowi mengatakan bahwa Kaesang dan Gibran sebagai anak yang mandiri. Dia menyerahkan keputusan kepada anak-anaknya. "Orang tua kan harusnya seperti itu."

    Apalagi, hingga saat ini belum ada partai yang terang-terangan menyampaikan minatnya untuk mengusung Gibran dalam bursa pemilihan Wali Kota Surakarta. "(Partai) Belum ada yang menyampaikan," kata Jokowi.

    Donal melihat selama lima tahun ini Presiden Joko Widodo secara konsisten melakukan upaya mencegah politik dinasti tersebut. Sehingga kalau sekarang dia memperbolehkan justru akan membuat kesan yang sama dengan politisi lainnya.

    "Kalau sekarang memperbolehkan justru membuat Jokowi terkesan sama dengan politisi kebanyakan dan tidak memberikan manfaat positif bagi Jokowi," katanya.

    Menurut Donal, selama ini publik melihat Jokowi sebagai teladan yang membatasi anak-anaknya tidak terjun ke politik praktis atau bahkan membatasi anak-anaknya tidak ikut-ikutan proyek APBD maupun APBN.

    "Dan ketika ikut-ikutan seolah-olah konsep positif yang dibangun itu akan hilang," katanya.

    Dengan adanya partai politik yang ramai-ramai mendukung Gibran ini, Donal menilai sebagai upaya parpol membangun kedekatan dengan presiden yang saat ini sedang menyusun kabinetnya.

    Tidak menutup kemungkinan dukungan yang diajukan oleh para parpol itu bagian dari membangun sisi kedekatan, menarik hati Jokowi untuk mendapatkan manfaat bagi partainya di kabinet.

    "Oleh karena itu ICW mendorong supaya tidak usah, kecuali kalau Presiden Jokowi sudah mangkat setelah itu ya silahkan.Tapi kalau sedang berkuasa itu tidak positif," kata Donal.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.