Siswa SMPN 32 Jadi Duta SICENTIK Kota Semarang 2019

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Guna mendorong semangat para siswa di dalam ikut menangani kasus DBD, TP PKK Kota Semarang setiap tahunnya menyelenggarakan lomba duta SICENTIK.

    Guna mendorong semangat para siswa di dalam ikut menangani kasus DBD, TP PKK Kota Semarang setiap tahunnya menyelenggarakan lomba duta SICENTIK.

    INFO NASIONAL — Tingginya angka penderita demam berdarah dengue atau DBD yang 50 persennya adalah anak usia sekolah, mendorong banyak pihak untuk mengambil langkah-langkah penanganan agar angka kejadian DBD, khususnya di Kota Semarang semakin berkurang. Salah satunya adalah Tim Penggerak (TP) PKK Kota Semarang yang diketuai oleh Krisseptiana Hendrar Prihadi melalui program SICENTIK (Siswa Cari Jentik). SICENTIK sendiri merupakan salah satu program yang diinisiasi oleh Tia Hendrar Prihadi. 

    Menurut istri orang nomor satu di Kota Semarang tersebut, SICENTIK menjadi program andalan dalam menurunkan kasus demam berdarah. Melalui program SICENTIK diharapkan para siswa menjadi lebih paham tentang bahaya demam berdarah termasuk bagaimana cara pencegahannya.

    Guna mendorong semangat para siswa di dalam ikut menangani kasus DBD, maka TP PKK Kota Semarang setiap tahunnya menyelenggarakan lomba duta SICENTIK. Untuk tahun ini, lomba Duta SICENTIK diikuti oleh 119 peserta dari SMP/MTS negeri dan swasta di Kota Semarang, yang berbeda dengan tahun sebelumnya yang melibatkan siswa-siswi SD. Seleksi lomba Duta SICENTIK dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama membuat esai terkait pengalaman siswa saat melakukan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) di lingkungan tempat tinggalnya, kemudian tahap kedua, yakni story telling.

    Setelah seleksi tahap satu, 10 peserta yang masuk kriteria penilaian akan masuk ke babak selanjutnya, yakni story telling yang diadakan Selasa, 30 Juli 2019, di gedung Balaikota Semarang. Kegiatan penilaian tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moch Abdul Hakam. Dalam sambutannya, Hakam mengatakan program SICENTIK bisa menjadi contoh dan memberikan motivasi kepada semua pihak agar lebih paham tentang demam berdarah dan penanganannya. Hakam juga berharap agar semangat SICENTIK tidak berhenti sampai lomba ini saja.

    Penilaian lomba Duta SICENTIK dilakukan oleh perwakilan dari Kementrian Agama, Dinas Pendidikan, Humas Pemerintah Kota Semarang, Tim Penggerak PKK Kota Semarang, dan LSM. Kriteria penilaian lomba diambil dari penampilan, cara penyampaian, isi cerita, dan kriteria cerita. Lomba Duta SICENTIK tahun 2019 dimenangkan oleh Alin F. A dari SMPN 32 sebagai juara 1, Revalina A.S dari MTS Miftahussadah sebagai juara 2, Nafisa P.A dari SMP IT PAPB sebagai juara 3, Novita .M dari MTS Hidayatus Syubban sebagai juara harapan 1, Urfa B.M dari SMP Hasanudin 7 sebagai juara harapan 2, dan Aulia Rahma dari SMP Sultan Agung sebagai juara harapan 3.

    Sementara itu, Ketua TPP PKK Kota Semarang, Tia Hendrar Prihadi, menjelaskan bahwa masih banyaknya angka kejadian demam berdarah di Semarang yang saat ini menduduki peringkat ke 19 se-Jawa tengah, mendorong diadakannya program SICENTIK. “Di samping memperkenalkan sejak dini kepada anak-anak sekolah tentang bahaya demam berdarah, melalui program ini kita juga ingin melatih mereka supaya menjadi pelopor hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarganya masing-masing, guna memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk perantara penyakit demam berdarah”, ujar Tia.

    Dengan adanya lomba Duta SICENTIK ini, diharapkan semua sekolah yang ada di Kota Semarang lebih rajin dalam melakukan kegiatan SICENTIK. Untuk para siswa-siswinya diharapkan sejak dini sudah tahu penyebab demam berdarah serta tahu bagaimana cara mencegahnya, bagaimana cara hidup bersih dan sehat sejak dini sehingga di usia dewasa nanti kesadaran mengenai hidup sehat semakin meningkat. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.