Cerita Demokrat Soal Politik Nasi Goreng Prabowo dengan SBY

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI keenam sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Calon Presiden Prabowo Subianto (kanan) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kediaman SBY di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. Pertemuan Prabowo dengan SBY tersebut untuk membahas situasi politik nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Presiden RI keenam sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Calon Presiden Prabowo Subianto (kanan) memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan di kediaman SBY di Mega Kuningan, Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018. Pertemuan Prabowo dengan SBY tersebut untuk membahas situasi politik nasional. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menyebut politik nasi goreng yang mewarnai pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri bukanlah hal baru.

    Menurut Hinca, politik nasi goreng juga pernah terjadi sebelumnya antara Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan anak Soemitro Djojohadikoesoemo itu dalam pertemuan di Cikeas, Bogor, Jawa Barat.

    "Saya kira politik nasi goreng yang di Teuku Umar kemarin juga bukan sesuatu yang baru. Pernah juga muncul waktu Pak SBY di Cikeas bertemu dan silaturahminya juga bagus," kata Hinca di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 25 Juli 2019.

    SBY diketahui pernah menjamu Prabowo dengan nasi goreng di kediamannya di Puri Cikeas pada Juli 2017. Kala itu, keduanya membicarakan Undang-undang Pemilu yang mensyaratkan ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen.

    Meski begitu, Hinca mengapresiasi pertemuan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) tersebut dengan Megawati yang berlangsung di kediaman Mega, Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat. Menurut dia, pertemuan itu baik sebagai bentuk silaturahmi antarpemimpin.

    "Itu menggambarkan kepada kita semua, pemimpin bisa duduk (bersama) dan saya menghargai, mengapresiasi itu," kata dia.

    Hinca enggan berkomentar soal kemungkinan Gerindra bergabung ke koalisi Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin. Menurut dia, di masa-masa ini Jokowi sedang menjajaki segala kemungkinan untuk menyusun pemerintahannya mendatang.

    Hinca pun menilai lazim jika terjadi banyak pertemuan dan komunikasi politik di antara pelbagai pihak. Dia menganggap dialog-dialog semacam itu memang selayaknya terjadi.

    "Kita dorong saja perjumpaan-perjumpaan itu untuk mendapatkan yang terbaik. Siapa itu? Ya kembali pada kewenangan dan hatinya Pak Jokowi. Istilahnya belanja, shopping untuk cari orang, pergi ke sana ke sini, menerima sana menerima sini," kata Hinca.

    Hinca juga mengungkit pertemuan Ketua Komando Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dengan keluarga Megawati sebelumnya. Dia membandingkan kegaduhan yang mengiringi pertemuan AHY-Mega dan Prabowo - Mega.

    "Kalau lihat kemarin waktu Mas AHY ketemu banyak yang ribut dan gaduh, kalau kali ini kan enggak gaduh. Jadi ternyata Pak Prabowo belajar juga sama Mas AHY," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.