Sandiaga Soal Rekomendasi Ijtima Ulama III: Tanya ke Ahli Hukum

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno saat memotong rambut di Rumah Cukur Ko Tang, Pasar Glodok, Jakarta Barat, Senin, 29 April 2019. Kegiatan Sandiaga mengisi waktu luang menunggu rekapitulasi suara nasional Pilpres 2019 salah satunya memotong rambut di Rumah Cukur legendaris di daerah Glodok. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Calon Wakil Presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno saat memotong rambut di Rumah Cukur Ko Tang, Pasar Glodok, Jakarta Barat, Senin, 29 April 2019. Kegiatan Sandiaga mengisi waktu luang menunggu rekapitulasi suara nasional Pilpres 2019 salah satunya memotong rambut di Rumah Cukur legendaris di daerah Glodok. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon Wakil Presiden 02 Sandiaga Uno tak banyak berkomentar ihwal hasil Ijtima Ulama III yang digelar di Hotel Lor In, Sentul, Bogor, Jawa Barat pada Rabu, 1 Mei 2019.

    Baca: Prabowo Hadiri Ijtima Ulama di Bogor, Sandiaga Pilih ke Padang

    Sandiaga hanya mengatakan bahwa para ulama perlu diberi ruang dan nasihatnya mesti diperhatikan. "Ulama adalah panutan. Masukan para ulama kita, tentunya elite harus memperhatikan," kata Sandiaga di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis, 2 Mei 2019.

    Sandiaga mengatakan bahwa para umaro (pemimpin) dan ulama harus bersanding. Menurut dia, Indonesia akan menjadi negara yang berhasil jika pemimpin dan ulamanya bersanding.

    Meski begitu, Sandiaga lagi-lagi enggan menanggapi saat ditanya isi poin rekomendasi Ijtima Ulama agar Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawas Pemilihan Umum mendiskualifikasi pasangan 01 Joko Widodo atau Jokowi - Ma'ruf Amin.

    Sandiaga mengatakan dirinya bukan ahli hukum yang bisa mengomentari masalah itu. "Saya enggak punya kompetensi untuk ini. Lebih baik diarahkan ke ahli-ahli hukum," kata dia.

    Sandiaga mengatakan yang terpenting adalah bagaimana hasil Pemilu 2019 bisa diterima seluruh masyarakat sebagai proses demokrasi yang jujur dan adil. Sedangkan sejauh ini, kata dia, yang menyatakan ada kecurangan pemilu bukan hanya kubu 02 melainkan juga kubu 01 Jokowi - Ma'ruf Amin.

    Sandiaga mengatakan banyaknya kecurangan amat memprihatinkan lantaran pemilu kali ini menghabiskan anggaran besar. "Puluhan triliun sudah kita gelontorkan untuk pemilu," kata dia. Dana untuk Pemilu 2019 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ialah Rp 25,59 triliun.

    Sandiaga tak menjelaskan lebih lanjut soal hasil Ijtima Ulama. Dia malah mengalihkan topik menyoal sistem aplikasi KPU untuk pelaporan dana kampanye yang menurutnya belum maksimal. Akibatnya, kata Sandiaga, proses pembuatan laporan dana kampanye dilakukan secara manual sehingga memakan waktu lebih lama.

    Simak juga: Sandiaga Bersyukur Jokowi Akui Ada Kecurangan Pemilu

    "Untuk yang simple seperti laporan keuangan, kebetulan saya mengerti laporan keuangan, ini belum bisa dilakukan secara optimal. Ini menjadi catatan tersendiri yang sangat kami prihatinkan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.