Mahfud MD Sarankan Said Didu Laporkan Kasus Peretasan ke Polisi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahfud MD. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Mahfud MD. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat hukum tata negara Mahfud MD menyarankan mantan Sekretaris Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu untuk melaporkan peretasan media sosial miliknya ke kepolisian.

    Baca: Said Didu Ungkap Kronologi Pengambilalihan Akun Media Sosialnya

    "Saya sarankan Pak Said Didu lapor ke polisi supaya jelas siapa pelakunya. Saya sendiri sebagai temannya ya sedih sampai diretas," kata Mahfud saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Senin, 15 April 2019.

    Akun Twitter Said Didu mengalami peretasan pada Sabtu malam, 13 April 2019. Akun dengan jumlah pengikut sebanyak 200 ribuan followers itu mencuitkan tentang ustaz Abdul Somad yang baru bertemu dengan Prabowo-Sandiaga.

    Selain Twitter, akun Facebook Said Didu juga diretas ketika ponselnya sedang tidak ada sinyal. Said Didu mengatakan, peretasan terjadi ketika ia sedang menyaksikan debat capres di Hotel Sultan, Jakarta, pada Sabtu, 13 April 2019.

    Mahfud mengatakan telah berkomunikasi dengan mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang juga menjadi korban peretasan di saat yang sama. Mahfud mengatakan pengikut twitter Dahlan yang awalnya sekitar 2,2 juta pengikut, mendadak hilang pasca-peretasan itu.

    "Enggak ada lagi follower-nya sesudah diretas beberapa waktu lalu. Saya baru bertemu dengan Dahlan Iskan mendiskusikan itu," kata Mahfud.

    Said Didu sebelumnya mengungkapkan bahwa dirinya enggan melaporkan masalah ini kepada polisi. Ia khawatir kebebasannya menggunakan media sosial akan terbatas jika peretasan itu dilaporkan.

    Saat ini, baik Twitter maupun Facebook pribadi Said Didu telah kembali. Said Didu mengklaim, akun media sosialnya itu biasa digunakan untuk membuka kebohongan publik di setiap debat capres 2019.

    Baca: Akun Twitter Diretas, Said Didu Tak Mau Lapor Polisi

    Ia menduga, pengambilan alihan akun-akun media sosialnya bertujuan agar ia tidak bisa lagi membuka fakta-fakta tersebut. Sehingga, akun itu digunakan untuk memfitnah orang lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.