Investasi Tenaga Kependidikan Hingga Luar Negeri

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seribu guru dan tenaga kependidikan mengikuti program pelatihan ke luar negeri.

    Seribu guru dan tenaga kependidikan mengikuti program pelatihan ke luar negeri.

    INFO NASIONAL-- Perubahan yang sangat cepat menghadirkan tantangan dalam dunia pendidikan. Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memegang peranan penting dalam menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Untuk itu, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melaksanakan program peningkatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan ke luar negeri selama tiga minggu.

    Sebanyak 1.000 guru dikirimkan untuk mengikuti program pelatihan tersebut.  Guru yang dikirim merupakan tenaga kependidikan baik dari sekolah formal maupun informal di jenjang TK, SD, SMP, SMA, SLB hingga SMK. Para peserta disebar ke 12 negara, di antaranya Korea, Finlandia, Australia, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hongkong, dan Belanda. Program ini bertujuan agar tenaga pendidik mendapat bekal dalam sistem pembelajaran di era Industri 4.0.

    Dalam acara penyambutan kepulangan para guru ke Indonesia, Minggu (24/3) di Hotel Millenium, Jakarta, Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kerja Kemdikbud, Wisnu Aji mengatakan program ini sukses dijalankan tanpa kendala berarti. Menurutnya, program ini merupakan upaya peningkatan investasi pendidikan dan peningkatan kualitas pengajaran di Indonesia.

    Tambahan ilmu dan manfaat yang dirasakan saat belajar di luar negeri tentu tak disia-siakan. I Putu Sudibawa, contohnya. Guru SMAN 1 Sidemen, Karang Asem, Bali ini membagikan pengalamannya saat berkunjung ke Prefektur Okayama, Jepang. Di sana ia berkesempatan menggali wawasan mengenai pendidikan inklusi di berbagai jenjang pendidikan.

    “Kami belajar di KIBI International University, tapi pengamatan praktik baik dilakukan langsung di beberapa lembaga penyelenggara pendidikan inklusi mulai dari jenjang TK, SD, SMP, bahkan panti jompo,” kata dia.

    Putu juga menjelaskan, timnya diajak melihat secara langsung bagaimana penyelenggara pendidikan inklusi di Jepang dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Pengalamannya di kota yang menjadi sentra produksi buah-buahan itu membuka wawasan bahwa pelayanan pendidikan untuk ABK harus ditingkatkan.

    Tak hanya itu, selama belajar ia dibekali pengetahuan mengenai model pengasuhan anak inklusi di usia dini, perkembangan ABK, strategi pembelajaran menyeluruh di berbagai jenjang pendidikan.

    “Dari sisi metode pengajaran berbeda. Di sana guru-guru pendidikan inklusi sudah dipersiapkan mempunyai kemampuan untuk mendidik ABK. Kami di Indonesia masih belum karena masih bersifat umum. Sarananya juga berbeda. Setiap ABK diberikan sarana yang sesuai dengan kebutuhannya,” kata Putu.

    Melalui program ini, tentu banyak inspirasi, hal-hal baru dan bekal yang dibawa GTK untuk diadaptasi guna meningkatkan proses pengajaran dan memotivasi siswa. “Diharapkan program ini terus diadakan untuk mengambil praktik baik dari negara lain, agar para GTK terbaik negeri ini mampu memberikan motivasi dan ide inspiratif untuk mengembangkan potensi diri lebih baik lagi, dan berdampak pada lingkungan sekolah,” ujar Putu. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.