Konbes NU, GP Ansor Minta Nahdliyyin Pilih Peserta Pemilu dari NU

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (tengah) memperkenalkan anggotanya saat pertemuan dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019. Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan pihaknya ingin memberikan pandangan terkait situasi di tanah air dalam perspektif organisasinya. Salah satunya tentang kondisi politik di Indonesia. ANTARA

    Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas (tengah) memperkenalkan anggotanya saat pertemuan dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2019. Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan pihaknya ingin memberikan pandangan terkait situasi di tanah air dalam perspektif organisasinya. Salah satunya tentang kondisi politik di Indonesia. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), Yaqut Cholil Qoumas, mengatakan di forum Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) ia akan menyampaikan agar para Nahdliyyin memilih calon anggota legislatif dan pasangan calon presiden yang berasal dari NU. Yaqut menjelaskan secara organisasi NU dilarang terlibat politik praktis. Namun ia meminta agar organisasi memberi kebebasan para kader berpartisipasi untuk pemilihan umum secara bertanggung jawab.

    "Ada koridor yang dibuat, misalnya pilih caleg yang dari NU, capres-cawapres yang dari NU, nah ini akan kami berikan masukan di Konbes," katanya pada Tempo di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019.

    Baca: Munas Alim Ulama NU Tak Dihadiri Sejumlah Kiai Sepuh

    Dalam Pemilihan Umum 2019, Mustasyar PBNU, Ma'ruf Amin, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo atau Jokowi. Pasangan Jokowi - Ma'ruf akan melawan duet Prabowo - Sandiaga Uno.

    Konbes merupakan forum tertinggi kedua setelah Muktamar yang membahas mengenai urusan rumah tangga NU. Di forum ini pengurus seluruh wilayah dan badan otonom berhak menyampaikan suara organisasi.

    Baca: Konbes NU Soroti Pelibatan Organisasi dalam Dukungan Ma'ruf Amin

    Yaqut menampik jika yang dilakukannya bisa membuat NU ditengarai terlibat terlalu jauh dalam politik praktis. Menurut dia, NU masuk ke dalam urusan politik untuk mencegah penganut radikalisme, intoleran, dan pihak yang ingin mengganti Pancasila makin leluasa bergerak.

    "Berpolitik secara tanggung jawab itu, ya, di mana ada kelompok radikal, intoleran, dan menghendaki bentuk negara di luar NKRI, kami lihat kumpulnya di mana, dan kami ambil posisi berseberangan," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.