Setya Novanto Klaim Tak Tahu Ada Bilik Asmara di Lapas Sukamiskin

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, tersenyum setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Setya Novanto kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    Terpidana mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto, tersenyum setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 28 Agustus 2018. Setya Novanto kembali diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Johannes Budisutrisno Kotjo terkait dengan kasus suap kesepakatan kontrak kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua DPR Setya Novanto mengatakan tidak ada bilik asmara di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung. Dia mengatakan juga tak pernah ditawari untuk menyewa bilik tersebut. "Ha-ha-ha Enggak ada, saya ke sana enggak ada kok," kata dia di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat, Selasa, 18 Desember 2018.

    Baca: KPK Ungkap Fahmi Darmawansyah Punya Bilik Cinta di Sukamiskin

    Setya merupakan terpidana 15 tahun penjara dalam kasus korupsi proyek e-KTP. Dia menjadi penghuni Lapas Sukamiskin sejak Mei 2018. Setya datang ke Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat untuk bersaksi dalam sidang perkara suap proyek PLTU Riau-1 dengan terdakwa eks Wakil Ketua Komisi Energi DPR Eni Maulani Saragih.

    Adapun soal keberadaan bilik asmara di Lapas Sukamiskin terungkap lewat dakwaan Kepala Lapas Sukamiskin Wahid Husen. Wahid didakwa menerima suap dari terpidana kasus suap di Badan Kemanan Laut, Fahmi Darmawansyah.

    Dalam surat dakwaan, Fahmi mendapat sejumlah fasilitas karena menyuap Wahid, salah satunya diizinkan mendirikan bilik khusus untuk melakukan hubungan suami-istri.

    Selain digunakan untuk diri sendiri, KPK menyatakan Fahmi juga menyewakan bilik itu kepada narapidana lain dengan harga Rp 650 ribu.

    Simak: Fahmi Darmawansyah Diadili dalam Perkara Suap Kalapas Sukamiskin

    Namun, menurut Setya Novanto bilik itu tidak ada. Dia mengatakan sejak penangkapan Wahid, kalapas Sukamiskin yang baru memeriksa setiap kamar. Barang-barang elektronik di dalam kamar narapidana dikeluarkan. "Enggak ada, sudah habis," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Undang-Undang Pemberantasan Terorisme Berlaku, 375 Ditangkap

    Sejak pemberlakuan Undang-Undang Pemberantasan Terorisme yang baru pada Mei 2018, kepolisian menangkap ratusan orang yang diduga terlibat terorisme.