Teknologi Tinggi Jadi Tulang Punggung Industri Kesehatan Taiwan

Reporter:
Editor:

Untung Widyanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Taiwan Ing-wen Tsai membuka Taiwan Healthcare+ Expo 2018 di Nangang Exhibition Center, Taipei,  29 November 2018

    Presiden Taiwan Ing-wen Tsai membuka Taiwan Healthcare+ Expo 2018 di Nangang Exhibition Center, Taipei, 29 November 2018

    TEMPO.CO, Taipei -  Sebanyak 1358 stan mengisi gedung Nangang Exhibition Center di Taipei. Peserta Taiwan Healthcare+ Expo 2018 itu berasal dari 415 rumah sakit, lembaga kesehatan serta ratusan perusahaan di dalam dan luar  Taiwan. Antara lain Foxconn, BenQ, Asus, Wistron, Quanta, Google, Microsoft dan Nvidia.

    Raksasa perusahaan teknologi terkemuka di dunia itu  menampilkan inovasi medis melalui artificial intelligent (AI), internet of thing (IoT) dan teknologi robot yang telah dan akan diterapkan di industri kesehatan Taiwan.  

    Baca juga: Taiwan Businesses Eyeing Indonesia`s Logistics Sector

    Pameran Taiwan Healthcare+ Expo yang berlangsung 29 November-2 Desember 2018 itu mengambil tema Where Tech Meets Medicine. Mereka mengeksplorasi tiga tren industri kesehatan terkini.  Yakni pengobatan yang efisien, cerdas dan inovatif.

    Pada pengobatan yang efisien, rumah-rumah sakit di Taiwan menerapkan aplikasi klinis dengan big data, AI, dan perangkat medis yang inovatif untuk mencapai kualitas tinggi, tepat, dan efisien.  Pada pengobatan yang cerdas, merupakan kombinasi dari mobile dan teknologi IoT, alat bantu yang user-friendly, dan model-model baru perawatan untuk mencapai kesehatan yang cerdas.

    Dokter peserta Taiwan Healthcare+ Expo 2018 sedang menjelaskan robot Brain Navi di di Nangang Exhibition Center, Taipei, 29 November 2018

    Sedangkan pada pengobatan yang inovatif, mereka memanfaatkan teknologi pengelolaan kesehatan pribadi dan alat serta teknologi farmasi dan produk untuk mencapai obat pencegahan dan terapi yang efektif.

    “Taiwan adalah tempat terbaik untuk pengembangan industri kesehatan," kata Presiden Taiwan  Ing-wen Tsai ketika membuka pameran di Nangang Exhibition Center di Taipei pada 29 November 2018.

    Menurut dia, Taiwan memiliki tiga keunggulan  yaitu teknologi kesehatan yang terkemuka, rantai pasok teknologi industri yang menyeluruh, dan  industri manufaktur bioteknologi yang terbaik.

    Taiwan tidak hanya menetapkan pedoman baru untuk pengobatan penyakit global, kata Tsai, tetapi juga dapat menjadi pemimpin dalam banyak kasus medis di seluruh dunia di masa depan. “Selain itu, teknologi tinggi Taiwan menjadi tulang punggung yang kuat untuk inovasi teknologi medis,” ujar Ing-wen Tsai.

    Memang, melalui pameran tersebut, Taiwan ingin memperlihatkan diri sebagai pusat keunggulan di bidang kesehatan digital di Asia Pasifik. 

    Simak juga: Kalah Pemilu, Presiden Taiwan Mundur dari Ketua Partai

    Oleh karena itu Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan, melalui  Taiwan External Trade Development Council (Taitra) mengundang Tempo dan beberapa jurnalis dari negara-negara di Asia Tenggara dan India untuk meliput pameran dan mengunjungi rumah-rumah sakit di Taiwan pada 27 November-1 Desember 2018.

    Presiden & CEO Taitra, Walter Yeh menjelaskan negaranya mengundang warga negara Indonesia dan Asia Tenggara berobat ke Taiwan. “Pada  tahun 2017 lebih dari  305.600  pasien internasional  yang berobat ke Taiwan.  Sebanyak sepertiganya (33,1%) berasal dari negara-negara di Asia Tenggara,” katanya. 

    Pengunjung mencoba alat bantu penderita stroke di Taiwan Healthcare+ Expo, pada 29 November 2018

    Menurut Walter, Taiwan juga menjadi tempat magang dokter dan tenaga kesehatan dari seluruh dunia. Sejak empat tahun terakhir ada 208 dokter yang fellowship di berbagai rumah sakit di Taiwan. Termasuk beberapa dokter yang dikirim Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

    “Saya belajar banyak dari teknologi bedah mikro di Taiwan yang maju,” kata Giuseppe di Taranto, dokter di Sapienza Universtita Roma, Italia.  Dokter Pham van Uy dari Vietnam mengaku mendapat keterampilan baru di Taiwan dan bertekad menerapkan di negaranya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?