Selasa, 11 Desember 2018

Ngobrol @Tempo Menggali Ide untuk Peluang Bisnis

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Acara Ngobrol @tempo, bertema menemukan masalah, menggali ide bisnis di Kampus Bina Nusantara, Alam Sutera, Tangerang Selatan, 5 Desember 2018.

    Acara Ngobrol @tempo, bertema menemukan masalah, menggali ide bisnis di Kampus Bina Nusantara, Alam Sutera, Tangerang Selatan, 5 Desember 2018.

    INFO NASIONAL-- Banyak orang ingin menjadi entrepeneur, namun tidak mengerti bagaimana cara memulai sebuah bisnis. Di lain sisi, era internet telah membuka peluang untuk mengembangkan ide menjadi sebuah perusahaan startup.  Saat ini, sudah sering terdengar keberhasilan bisnis digital yang begitu spektakuler yang dimulai dari ide sederhana.

    Tempo menggelar Ngobrol@Tempo yang menghimpun pelaku bisnis digital untuk berbagi cerita tentang ide serta upaya-upaya dalam mengembangkan perusahaan startup.  Acara kali ini digelar pada Rabu, 5 Desember 2018 di Binus University, Alam Sutera Serpong yang didukung oleh JD.ID dan Epson. Nara sumber yang hadir adalah Head of Branding JD.ID Demmy Indranugroho, CEO Ajarin Indonesia Caroline Samosir, serta CEO Triplogic Oki Earlivan. Perbincangan dimoderatori oleh S. Dian Andryanto dari Tempo Media Group.

    Caroline Samosir bercerita tentang awal pendirian Ajarin, platform digital yang membantu orang tua untuk mencari guru privat sekaligus mengembangkan bakat bagi anak usia 4-16 tahun. “Saat masa kuliah, saya juga mengajar menjadi guru privat. Untuk tesis, saya membuat produk digital dan berpikir apakah bisa digunakan untuk mencari guru privat?” ujar Caroline.

    Setelah melewati berbagai proses, Ajarin berdiri pada 2017. Ajarin, ujar Caroline, sebenarnya memanfaaatkan potensi mahasiswa untuk membagi ilmu dan keahllian yang dimiliki. “Ternyata mereka, para mahasiswa juga lebih confidence jika mengajar anak-anak.”

    Sementara Oki Earlivan membangun Triplogic dengan pemikiran bahwa pelancong kerap tidak menggunakan fasilitas bagasi yang sudah dibayar saat membeli tiket.  Di sisi lain, meningkatnya belanja online akan menaikkan kebutuhan akan fasilitas pengiriman barang. Meski ada banyak perusahaan ekspedisi, namun menurutnya, memerlukan waktu cukup lama  hingga barang sampai di tempat tujuan.  Penggunaan bagasi kosong dapat memangkas waktu pengiriman. “Traveler juga bisa mendapatkan uang. Traveling bisa gratis,” ujar Oki. 

    Situasi dan kondisi tertentu akan menimbulkan kebutuhan pada masyarakat yang bisa dijadikan peluang. Demmy menceritakan, JD.com hadir di Cina dipicu oleh adanya wabah penyakit SARS. Akibat wabah tersebut, orang tidak berani bepergian untuk berbelanja.  Pembelian barang pun beralih ke online.   

    Ketiga pembicara sepakat, bahwa untuk menemukan ide bisnis, bisa dimulai dari hal-hal kecil yang  ada di sekitar kita. Ide bisa merupakan solusi atas masalah yang ada. Yang terpenting, seseorang yang ingin memulai usaha, harus mengerjakan apa yang  ia suka sesuai dengan passion yang dimiliki. Dengan demikian, ia akan siap untuk mengalami jatuh bangun dalam menjalankan bisnis.

    Caroline menambahkan,  untuk menjadi seorang entrepreneur, semestinya memiliki beberapa skill, misalnya terkait produk, marketing, juga membuat tampilan visual produk dengan desain dan fotografi.

    Menurut Oki, validasi ide merupakan faktor pertama yang menentukan sebuah bisnis startup bisa exist. “Idenya bagus, tapi bagaimana jika tidak bisa diimplementasi,” ujar Oki. Faktor lain  adalah market validation, yaitu ada pasar yang akan menjadi pengguna produk dan faktor selanjutnya adalah validasi model bisnis.

    Demmy mengatakan bisnis e-commerce sudah semakin kompetitif.  Pendekatan marketing saat ini telah dilakukan di semua lini baik TV, channel  YouTube, dan lain-lain, termasuk membentuk komunitas-komunitas. “Dengan demikian dibutuhkan ide-ide kreatif yang sangat cepat,” ujar Demmy. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.