Menko Puan Maharani Mengaku Tak Pernah Kena Omel Presiden Jokowi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani. TEMPO/Subekti.

    Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengakui adanya anggapan bahwa dia tak bekerja keras tetapi tak akan kena marah Presiden Joko Widodo. Puan mengatakan anggapan itu muncul lantaran dirinya merupakan anak Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

    Namun, Puan menyanggah anggapan ini. Dia mengaku tetap bekerja keras menjalankan kementerian yang dia pimpin.

    Baca: Eksklusif Puan Maharani: Perempuan Harus Bisa Sama dengan Lelaki

    "Kalau dibilang ini pasti karena anaknya Bu Mega terus enak-enakan aja, enggak mungkin Pak Jokowi marah. Ya enggaklah, enggak mungkin, masih harus kerja," kata Puan kepada Tempo di kantornya, Senin, 26 November 2018.

    Kendati begitu, ketika ditanya lebih lanjut, Puan mengakui dirinya memang tak pernah kena omel Jokowi. Puan menuturkan, biasanya Jokowi akan lebih mengajaknya berdiskusi. "Enggak pernah (diomelin)," kata Puan.

    Baca: Eksklusif Puan Maharani: Revolusi Mental Bukan Perkara Instan

    Jokowi, kata Puan, tak mengomel tetapi lebih mengajaknya berdiskusi. Hasil diskusi itu kemudian dia tindaklanjuti dengan rapat koordinasi antarkementerian yang menjadi tanggung jawabnya.

    Menteri yang membawahi bidang kesejahteraan masyarakat ini pun menampik dirinya tak pernah kena tegur lantaran kinerja kementerian sudah bagus. "Bukannya sudah bagus (kinerja), kami selalu diskusi saja. Kalau ada yang diharapkan oleh Presiden, Pak Presiden ya bicara," kata Puan.

    Baca: Puan Maharani Minta DPR Bahas RUU Penghapusan Kekerasan Seksual


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kombatan ISIS asal Indonesia yang Terdeteksi di Suriah dan Irak

    Pada 2017, BNPT memperkirakan seribu lebih WNI tergabung dengan ISIS. Kini, kombatan asal Indonesia itu terdeteksi terserak di Irak dan Suriah.