Selasa, 23 Oktober 2018

Pasar di Kota Palu Mulai Beroperasi Setelah Terkena Gempa

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota TNI membantu pengungsi yang akan membeli gas elpiji saat operasi pasar di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 6 Oktober 2018. Operasi pasar gas elpiji di sejumlah titik di Kota Palu itu guna mempermudah pengungsi mendapatkan gas elpiji untuk keperluan memasak sehari-hari pascagempa dan tsunami. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

    Seorang anggota TNI membantu pengungsi yang akan membeli gas elpiji saat operasi pasar di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu, 6 Oktober 2018. Operasi pasar gas elpiji di sejumlah titik di Kota Palu itu guna mempermudah pengungsi mendapatkan gas elpiji untuk keperluan memasak sehari-hari pascagempa dan tsunami. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivitas perekonomian di Kota Palu mulai bergeliat dua pekan pasca-gempa melanda, Kamis, 11 Oktober 2018. Para pedagang di titik-titik perbelanjaan sudah tampak membuka lapaknya. Salah satu gedung pusat perdagangan semi-modern yang kiosnya mulai kembali aktif adalah Pasar Bambaru di Palu Baru, Kota Palu.

    Baca: Pemerintah Kota Palu Terima Komitmen Bantuan Rp 1,6 Miliar

    Saat Tempo berkunjung, beberapa pemilik kios sedang bersiap menggelar dagangannya. Ramlah, 47 tahun, terlihat sedang sibuk mengelap sepatu dan tas produk jualannya.

    "Ini kemarin kena runtuhan dinding dan atap, jadi dibersihkan dulu," ujar Ramlah saat ditemui di Pasar Babaru, Kamis pagi, 11 Oktober 2018. Ramlah baru mulai berdagang di hari itu. Dua pekan ini, ia dan karyawannya yang berjumlah lebih-kurang empat orang absen karena trauma dengan guncangan gempa.

    Kios Ramlah rusak di bagian dalam. Plafonnya berongga dan atapnya jebol di beberapa sisi. Dinding-dinding kios itu pun retak hingga menimpa lemari dan rak sepatu dan tas dagangannya.

    Sebuah lemari kaca Ramlah ambruk dan pecah. Isinya menghambur ke lantai dan berdebu. Ada tas perempuan dan sepatu untuk anak-anak serta dewasa yang berserakan terkena puing-puing bangunan.

    Saat gempa terjadi pada Jumat, 28 September lalu, Ramlah dan karyawannya sedang menunggu kios. Mereka seketika langsung menutup pintu kios itu dan menggerendelnya rapat karena takut terjadi penjarahan. Isu penjarahan langsung berkembang saat itu.

    Baca: Panas Terik, Pengungsi Gempa Palu Terkenang Rumah yang Nyaman

    Di hari pertama kios itu dibuka lagi, Ramlah sudah kedatangan pembeli. Seorang pembeli berbelanja sepatu untuk ke kantor. Dagangan yang bisa diselamatkan dan layak dijual lagi oleh Ramlah memang cukup banyak, yakni mencapai 80 persen. Sisanya telah rusak terkena gempa.

    Pedagang lain, Syahril, 43 tahun, juga sudah membuka lapaknya. Ia menjual kaus kaki dan perlengkapan sekolah. Sejak empat hari lalu kios itu beroperasi, ada satu-dua pembeli tiap hari yang datang untuk belanja. Rata-rata membeli kaus kaki.

    Kios lain milik Kamarudin, 96 tahun, juga telah aktif kembali. Kamarudin menjual pakaian harian dan seragam. Pengunjung kiosnya banyak yang membeli celana dalam. Adapun harga untuk dagangan para pemilik kios itu dijual sesuai dengan harga normal. "Celana dalam tetap Rp 10 ribu," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.