Selasa, 23 Oktober 2018

Pemerintah Batasi Jenis Bantuan Asing untuk Korban Gempa Palu

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara dan tim penyelamat mengumpulkan korban tewas akibat gempa Palu di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 6 Oktober 2018. Sebanyak 82 orang korban meninggal dunia akibat tanah yang amblas di wilayah itu. REUTERS/Darren Whiteside

    Tentara dan tim penyelamat mengumpulkan korban tewas akibat gempa Palu di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, 6 Oktober 2018. Sebanyak 82 orang korban meninggal dunia akibat tanah yang amblas di wilayah itu. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah telah memutuskan menerima bantuan dari negara asing untuk gempa Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Keputusan itu diambil Presiden Joko Widodo atau Jokowi sesaat setelah menerima telepon dari sejumlah petinggi negara untuk mengirimkan bantuannya ke Indonesia.

    Baca: Pemerintah Terima Bantuan Asing Rp 220 Miliar untuk Gempa Palu

    "Namun, bantuan-bantuan yang masuk itu disesuaikan dengan kebutuhan," kata Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir dalam konferensi pers bertajuk Tanggap Bencana Sulawesi Tengah di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jalan Pramuka, Jakarta, Sabtu, 6 Oktober 2018.

    Menurut Fachir, saat ini ada setidaknya ada enam jenis barang atau benda bantuan asing yang diterima lantaran dibutuhkan. Pertama, adalah angkutan udara. Sampai saat ini, beberapa negara sudah menerbangkan pesawat-pesawatnya untuk mengangkut logistik.

    Pesawat yang masuk pun hanya yang berjenis Hercules C130 dan Boeing 737-500 atau versi di bawahnya. Sebab, hanya pesawat itulah yang bisa mendarat di kawasan terdampak gempa tsunami dengan panjang lintasan tak lebih dari 2 ribu meter.

    Saat ini tercatat sudah ada 13 pesawat yang masuk. Enam di antaranya sudah diterbangkan untuk mengirim logistik. Pesawat-pesawat itu langsung kembali ke negaranya. Selain itu, ada 7 pesawat yang sampai sekarang masih berada di lokasi. Pesawat-pesawat ini terus beroperasi dan membantu tim gabungan mengirimkan bantuan bantuan.

    Baca: Gempa Palu, Sumatera Barat Kirim 1,6 Ton Rendang

    Kedua, kata Fachir, ialah genset. Genset dibutuhkan lantaran listrik di sejumlah daerah belum menyala. Ketiga, tenda yang diperlukan untuk tempat bernaung sementara bagi pengungsi. Keempat, water treatment atau penjernih air. Kemudian berturut-turut rumah sakit lapangan dan fogging. Selain benda, pemerintah menerima bantuan dalam bentuk finansial.

    Sementara itu, bantuan berbentuk obat-obatan dianggap sudah cukup. Saat ini, pemerintah diakui telah memiliki amunisi medis dan tenaga medis yang cukup, namum masih terkendala soal transportasi untuk mengantarkan bantuan itu sampai lokasi terdampak bencana.

    Kemenlu mencatat, sampai sekarang ada 25 negara yang mengumumkan berkomitmen memberikan bantuan. Sebanyak 18 negara di antaranya telah merealisasikan bantuan itu. Negara tersebut di antaranya Korea, Jepang, Swiss, Singapura, Cina, Qatar, Turki, India, Spanyol, Vietnam, Malaysia. Selanjutnya, Inggris, Selandia Baru, Australia, Rusia, Pakistan, Denmark, dan Amerika Serikat.

    Saat ini, bantuan asing yang masuk ke Indonesia akan diidentifikasi lebih dulu. "Apakah dibutuhkan atau tidak, kami cocokkan dulu dengan di lapangan," ujar Fachir. Bantuan asing pun akan dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Bantuan berupa dana rencananya digunakan untuk tanggap darurat, rekonstruksi, dan rehabilitasi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Laporan Sementara Dampak Gempa Palu per 20 Oktober 2018

    Laporan sementara dampak Gempa Palu per daerah tingkat II pasca gempa dan tsunami Sulawesi tengah di lima sektor sampai 20 Oktober 2018.