Senin, 10 Desember 2018

1.425 Napi Lapas Palu Belum Kembali Pasca Gempa Donggala

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (Dari kanan) Direktur Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami, Kepala Biro Humas, Hukum dan Kerja Sama Kemenkumham Ayub Suratman, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kemenkumham Liberty Sitinjak, di kantor Kemenkumham, Jakarta Selatan, Sabtu malam, 21 Juli 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    (Dari kanan) Direktur Jenderal Permasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami, Kepala Biro Humas, Hukum dan Kerja Sama Kemenkumham Ayub Suratman, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Permasyarakatan Kemenkumham Liberty Sitinjak, di kantor Kemenkumham, Jakarta Selatan, Sabtu malam, 21 Juli 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Narapidana Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Palu yang kabur pasca gempa Donggala dan tsunami Palu sampai saat ini masih belum kembali.

    Baca juga: Cerita Saksi Mata Ungkap Detik-detik Gempa dan Tsunami Palu

    Direktur Jenderal Pemasyarakatan Sri Puguh Budi Utama menjelaskan, secara keseluruhan, total ada 3.220 warga binaan di rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas) di Sulawesi Tengah. Dari jumlah tersebut, hanya tersisa 1.795 orang yang tetap berada di dalam tahanan.

    Sedangkan, sisanya yakni 1.425 warga binaan masih berada di luar lapas dan tahanan. "Kami masih terus menunggu informasi dan data terbaru mengenai jumlah tahanan dan narapidana," kata Sri Puguh. Sedangkan di rutan Donggala hingga saat ini belum ada warga binaan yang kembali.

    Sri Puguh kemudian menceritakan kronologi kaburnya para tahanan dan narapidana saat gempa Donggala berkekuatan M7,4 mengguncang Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat petang, 28 September 2018.

    Sri Puguh menjelaskan, saat gempa Donggala menguncang, petugas lapas telah melakukan pertolongan pertama kepada seluruh warga binaan dengan mengumpulkannya di lapangan. Kemudian kepala masing-masing lapas telah mengizinkan sedikit-demi sedikit warga binaan untuk secara bergantian keluar menemui masing-masing keluarganya.

    Baca juga: Pengungsi Gempa dan Tsunami Palu Kekurangan Makanan dan Air

    "Kondisi awalnya kondusif, walaupun pagar yang melingkupi lapas semua roboh," kata Sri di gedung Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Jakarta Pusat pada Senin, 1 Oktober 2018. Ia menambahkan, seluruh warga binaan panik dan teriak-teriak saat guncangan terasa. Akibat kepanikan tersebut, kemudian warga binaan membobol gerbang juga tembok untuk segera menyelamatkan diri dan bertemu dengan keluarganya.

    “Tidak lama di tengah halaman di mana mereka berkumpul air tanah merekah keluar dari dalam tanah. Warga binaan panik kemudian disusul roboh blok sisi kiri, dua blok roboh. Tapi begitu disusul gempa berikut mereka tidak sabar dan lari ke dua blok yang bobol,” kata Sri Puguh.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.