Selasa, 18 September 2018

Korban Tewas Bus Masuk Jurang di Cikidang Jadi 23 Orang

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kecelakaan bus dan truk. AP

    Ilustrasi kecelakaan bus dan truk. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Korban tewas kecelakaan bus masuk jurang di jalur Cikidang - Palabuhanratu terus bertambah. Hingga saat ini jumlah korban tewas sebanyak 23 orang. Korban tewas sebagian besar berada di RSUD Palabuhanratu sedangkan beberapa diantaranya di RSUD Sekarwangi Cibadak.

    Baca juga: Bus Pariwisata Masuk Jurang di Lombok, Tiga Turis Tewas

    Bus wisata bernopol B 7025 SGA yang mengalami kecelakaan di turunan jalan letter S ini berisi 38 orang, termasuk seorang sopir dan seorang kernet.

    Rencananya korban tewas yang berada di RSUD Sekarwangi Cibadak akan dibawa ke RSUD Palabuhanratu. Hal itu dilakukan agar memudahkan pendataan korban.

    "Semua korban meninggal dibawa ke RSUD Palabuhanratu untuk mempermudah pendataan dan penjemputan jenazah oleh keluarga," ujar Kapolres Sukabumi, Ajun Komisaris Besar Nasriadi kepada sukabumiupdate.com, Sabtu 8 September 2018.

    Saat ini, pihak kepolisian masih melakukan olah TKP dan proses evakuasi bus dari jurang.

    Baca juga: Bus Masuk Jurang Akibat Kesalahan Sopir

    Kecelakaan maut ini terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Para korban merupakan karyawan perusahaan dealer sepeda motor PT Catur Putra Group. Rencananya rombongan ini akan menggelar gathering di salah satu tempat arung jeram yang berada tak jauh dari lokasi kecelakaan.

    Untuk sementara, kecelakaan bus masuk jurang itu diduga akibat sopir yang tidak dapat mengontrol kendaraannya. Adapun untuk memastikan penyebab utama kecelakaan tersebut, Polres Sukabumi akan melakukan olah TKP bekerjasama Direktorat Ditlantas Polda Jabar.

    SUKABUMIUPDATE.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.