Surya Paloh: Kalau Kubu Sebelah yang Mimpin, Emang Dolar Turun?

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh berbicara kepada awak media di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem, Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. Surya Paloh berbicara mengenai kemenangan Nasdem di 11 daerah Pilgub dalam versi hitung cepat berbagai lembaga survei. TEMPO/Syafiul Hadi

    Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh berbicara kepada awak media di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Nasdem, Jakarta, Rabu, 27 Juni 2018. Surya Paloh berbicara mengenai kemenangan Nasdem di 11 daerah Pilgub dalam versi hitung cepat berbagai lembaga survei. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (NasDem) Surya Paloh memberi tanggapannya terkait dengan isu ekonomi yang digunakan kubu Prabowo Subianto untuk menyerang kubu petahana Joko Widodo atau Jokowi. Menurut Paloh, Jokowi hanya perlu menanggapi kritik tersebut dengan senyuman.

    Baca juga: Prabowo Bandingkan Kerja Pemerintah Indonesia dengan Cina dan Jepang

    "Emangnya kalau kubu sebelah yang jadi pimpinan, dolar bisa hari ini turun? Belum tentu," kata Surya Paloh di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Sabtu, 1 September 2018.

    Sebelumnya, calon presiden Prabowo Subianto berpendapat melemahnya nilai tukar rupiah lantaran ekonomi Indonesia tidak kunjung menguat. Pada Sabtu, 1 September 2018, nilai tukar rupiah berada pada Rp 14.700.

    "Mata uang kita tidak kuat karena ekonomi kita tidak kuat," ujar Prabowo di Hotel Sahid Jaya di Jakarta Selatan, Sabtu.

    Prabowo menilai ekonomi Indonesia tidak akan menguat selama produksi dan kekayaan dalam negeri mengalir ke luar negeri. Menurut Prabowo, harus ada perubahan sistem ekonomi untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang semakin sulit.

    Baca juga: Pengadangan #2019GantiPresiden, Jokowi: Demokrasi Ada Batasnya

    Selain perubahan ekonomi, dia melanjutkan, sistem politik di dalam negeri harus diperbaiki. "Setiap lapisan harus memiliki kesadaran untuk perubahan pada sistem ekonomi dan politik, situasi ekonomi hari ini sulit," ujarnya.

    Prabowo berpendapat, faktor lain yang membuat ekonomi di dalam negeri lemah adalah utang luar negeri Indonesia. Menurut dia, setiap hari, utang Indonesia naik Rp 1 triliun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.