PKS Soal Post-Islamisme: Sandiaga Tidak Menerapkan Syariah Kaku

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memegang <i>jersey</i> timnas Kroasia dalam acara <i>nonton</i> bareng final Piala Dunia 2018 di Pasar Induk Kramat Jati, 15 Juli. Dalam pertandingan ini, Prancis membungkam Kroasia 4-2. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memegang jersey timnas Kroasia dalam acara nonton bareng final Piala Dunia 2018 di Pasar Induk Kramat Jati, 15 Juli. Dalam pertandingan ini, Prancis membungkam Kroasia 4-2. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman menyebut calon wakil presiden, Sandiaga Uno, adalah santri post-islamisme. Wakil Ketua Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sukamta menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah itu dan mengapa PKS menganggap Sandiaga masuk dalam Post-Islamisme.

    Baca: Sandiaga Uno Disebut Santri Post-Islamisme, Begini Penjelasan PKS

    Menurut Sukamta, salah satu ciri dari Sandiaga yang bisa dilihat sebagai seorang santri post-Islamisme adalah kedekatan dengan tokoh-tokoh agama. "Kedekatan dengan ulama dan perilaku Islami yang menunjukkan kesalihan pribadi itu bagian tidak terpisahkan," katanya lewat pesan singkat pada Tempo, Sabtu, 11 Agustus 2018.

    Sukamta menjelaskan ciri utama dari aktivis post-Islamisme ini adalah mereka cenderung pragmatis, realistis, dan bersedia berkompromi dengan realitas meski tidak selalu ideal. Namun, ia membantah jika Sandiaga atau aktivis post-Islamisme ini disebut sama dengan sekuler.

    Ia mengatakan Sandiaga dan para tokoh post-Islamisme tidak lagi terobsesi dengan penerapan ajaran Islam yang kaku. "Seperti penerapan hukum syariah secara kaku dalam kenyataan politik sehari-hari," ucapnya.

    Anggota Komisi Luar Negeri Dewan Perwakilan Rakyat ini menuturkan post-Islamisme adalah tahapan terkini dari gerakan dakwah Islam setelah revivalisme dan strukturalisme Islam. Gerakan ini mulai menguat seiring dengan kebangkitan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Turki.

    Simak juga: Meski PAN Dukung Prabowo, Sandiaga: Soetrisno Bachir Pro Jokowi

    Sukamta menuturkan secara singkat post-Islamisme adalah gerakan yang lebih mementingkan tercapainya esensi Islam, moderat, menyatu dengan sistem yang sedang berjalan, yaitu demokrasi. Pendekatan mereka lebih pragmatis, yaitu tercapainya target riil seperti ekonomi, pembangunan, pertumbuhan dan kesejahteraan masyarakat secara umum. "Pak Sandiaga disebut oleh presiden PKS sebagai santri Post-islamisme karena memang beliau mewakili tipologi aktivis dakwah Islam seperti tersebut di atas," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.