Sabtu, 15 Desember 2018

Jadi Caleg PDIP, Kapitra Ampera: Silakan Panggil Saya Cebong

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapitra Ampera (Kiri), bersama Hasto Kristiyanto (tengah) dan Sidarto Danusubroto dalam acara penyerahan dokumen persyaratan caleg di Gedung DPP PDIP, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan.

    Kapitra Ampera (Kiri), bersama Hasto Kristiyanto (tengah) dan Sidarto Danusubroto dalam acara penyerahan dokumen persyaratan caleg di Gedung DPP PDIP, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018. TEMPO/Ryan Dwiky Anggriawan.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapitra Ampera resmi menjadi calon anggota legislatif atau caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk keperluan pendaftaran caleg sudah ia serahkan ke partai berlogo banteng itu.

    Baca juga: Alasan Kapitra Ampera Tak Lagi Jadi Pengacara Rizieq Shihab

    "Iya, please call me cebong (silakan panggil saya cebong). Hari ini saya menjadi cebong," kata Kapitra di gedung Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Jakarta, Selasa, 24 Juli 2018.

    Dalam media sosial, kata cebong merujuk pada kelompok pendukung Joko Widodo. PDIP adalah pengusung Jokowi dalam pemilihan presiden 2019.

    Menurut mantan pengacara pemimpin FPI—Rizieq Shihab—itu, cebong dalam persepsi agamanya adalah anak katak yang selalu berzikir demi kebaikan bangsa ini. "Itu yang saya tahu dalam terminologi Islam yang saya anut. Jadi panggilan cebong bukanlah panggilan hinaan," ujarnya.

    Ia juga mengatakan keputusannya bergabung dengan PDIP tetap sama dengan tujuan-tujuannya sebelum ini. "Saya ingin membela ulama, membela Islam, dan membela Indonesia," ucapnya.

    Baca juga: Jadi Caleg PDIP, Kapitra Ampera: Berjuang di Luar Tidak Ada Hasil

    Indonesia, kata Kapitra, merupakan negara yang terdiri atas beragam suku dan agama. Satu kesatuan ini, menurutnya, jangan dipecah-belah. "Dalam ajaran Islam yang saya anut mengatakan bahwa persaudaraan sebangsa itu harus selalu terbangun di atas perbedaan-perbedaan," tuturnya.

    Kapitra menuturkan, saat ini, perbedaan-perbedaan di Indonesia sering mendapat pertentangan. Padahal, ia melanjutkan, perbedaan itu juga datang dari Tuhan dan hak asasi setiap manusia (human rights). "Bagaimana kita menentang kehendak Allah? Bagaimana kita memaksakan keinginan kita di atas kehendak Allah? Dalam akidah saya sudah jelas, bagimu agamamu, bagiku agamaku," katanya.

    Kapitra Ampera berujar keputusannya bergabung dengan PDIP dilakukan dengan tidak menggadaikan agamanya. PDIP, kata dia, juga memiliki prioritas terhadap umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia.

    "Bukan saya masuk PDIP terus saya jadi kafir. Tidak. PDIP juga memberi ruang untuk saya menegakkan identitas keislaman saya. Saya harap semua prejudice dan prasangka buruk bisa kita minimalisir agar kita tetap bisa bersaudara sebagai anak bangsa. Terima kasih," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.