Polisi Hilang Pasca-Pilkada Papua, Polda Turunkan 100 Personel

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah Pemuda Papua yang tergabung dalam Perhimpunan Persatuan Aksi Solidaritas umtuk Transparansi dan Independensi  Indonesia (PASTI Indonesia), mendatangi Gedung KPK, Jakarta, 27 September 2016. Dengan menggunakan pakaian khas Papua, mereka mendesak KPK untuk mengusut kasus korupsi yang diduga melibatkan sejumlah pejabat yang akan ikut mencalonkan diri pada Pilkada serentak pada 2017 mendatang.  TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Sejumlah Pemuda Papua yang tergabung dalam Perhimpunan Persatuan Aksi Solidaritas umtuk Transparansi dan Independensi Indonesia (PASTI Indonesia), mendatangi Gedung KPK, Jakarta, 27 September 2016. Dengan menggunakan pakaian khas Papua, mereka mendesak KPK untuk mengusut kasus korupsi yang diduga melibatkan sejumlah pejabat yang akan ikut mencalonkan diri pada Pilkada serentak pada 2017 mendatang. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Daerah Papua menurunkan seratus personel untuk mencari dua anggotanya yang hilang saat membawa kotak berisi hasil pemungutan suara pemilihan kepala daerah atau pilkada Papua. “Personel diturunkan sekitar seratus orang untuk menyisir sepanjang Sungai Mamberamo Raya,” kata Kepala Polda Papua Inspektur Jenderal Boy Rafli melalui pesan pendek, Sabtu, 30 Juni 2018.

    Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menjelaskan, keduanya menghilang setelah terjadi penyerangan oleh kelompok bersenjata. Penyerangan terjadi siang hari seusai pemungutan suara, Rabu, 27 Juni 2018. Saat itu, sembilan petugas kepolisian bersama Kepala Distrik Torere Obaja Foraro menggunakan dua kapal cepat membawa logistik pilkada dan hasil pemungutan suara ke Distrik Torere.

    Baca: Bawa Logistisk Pilkada Papua, Kepala Distrik Tewas Diserang Kelompok Bersenjata

    Dalam perjalanan itu, ucap Setyo, terjadi penyerangan oleh kelompok bersenjata. Akibatnya, Kepala Distrik Torere tewas dalam baku tembak. Sedangkan lima polisi terjun ke sungai. Tiga di antaranya bisa menyelamatkan diri, sementara dua lain, yaitu Inspektur Dua Jesayas H. Nusi dan Brigadir Sinton Kabarek, belum diketahui keberadaannya sampai sekarang.

    Setyo menyebutkan pelaku penyerangan tersebut diduga masih satu kelompok dengan mereka yang menembaki pesawat Brimob di Bandara Keneyam, Papua, dua hari lalu. Menurut dia, kelompok bersenjata tersebut diduga sengaja mengganggu pelaksanaan pilkada untuk eksistensi kelompoknya.

    Simak juga: Kapolri Sebut Penembakan Pesawat di Papua Terkait Pilkada

    Saat ini, kata Setyo, polisi masih memburu kelompok bersenjata tersebut. Mabes Polri juga sudah mengirim pasukan tambahan untuk mengamankan wilayah di Papua. "Kamis kemarin sudah berangkat pasukan tambahan ke Papua. Untuk detail jumlahnya, saya lupa," ujarnya.

    Polisi menyatakan kelompok bersenjata yang diduga ingin mengganggu jalannya pilkada Papua itu bersembunyi di wilayah pegunungan. "Kesulitan medan di hutan dan pegunungan Papua menjadi kendala lapangan dalam pemburuan," tutur Setyo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anwar Usman dan 8 Hakim Sidang MK dalam Gugatan Kubu Prabowo

    Mahkamah Konstitusi telah menunjuk Anwar Usman beserta 8 orang hakim untuk menangani sengketa pemilihan presiden 2019.