Selasa, 17 September 2019

Berebut Posisi Cawapres, Koalisi Jokowi Dianggap Tak Akan Pecah

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai PPP M Roharmuziy saat melakukan pertemuan di kantor DPD PPP, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018. Pertemuan ini direncanakan akan membahas konsolidasi partai pengusung capres petahana, Joko Widodo atau Jokowi.  TEMPO/Muhammad Hidayat

    Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartanto berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai PPP M Roharmuziy saat melakukan pertemuan di kantor DPD PPP, Jakarta, Kamis, 28 Juni 2018. Pertemuan ini direncanakan akan membahas konsolidasi partai pengusung capres petahana, Joko Widodo atau Jokowi. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy mengatakan koalisi pengusung Jokowi dalam pemilihan presiden 2019 tak akan pecah karena persoalan posisi calon wakil presiden. Romi, sapaan Romahurmuziy, mengatakan tak ada satu pun pimpinan partai koalisi yang mengancam hengkang jika cawapres yang diajukan tak dipilih Jokowi.

    "Tidak ada satu pun statement itu, tidak ada," kata Romi di kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 28 Juni 2018.

    Baca: Partai Nasdem Sebut Hasil Pilkada Serentak Perkuat Koalisi Jokowi

    Koalisi pengusung Jokowi terdiri dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Nasdem, dan Partai Hanura. Sejauh ini, kader PPP dan Golkar sama-sama menginginkan ketua umumnya menjadi cawapres Jokowi.

    Peluang koalisi juga terbuka dengan Partai Kebangkitan Bangsa. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar alias Cak Imin bahkan mengajukan dirinya sebagai cawapres Jokowi. Muhaimin menggadang-gadang dirinya dan yakin bakal dipilih Jokowi.

    Politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan koalisi tersebut berpotensi pecah lantaran persoalan cawapres. Kata dia, partai yang kandidatnya tak dipilih bisa saja akhirnya balik badan.

    Romi mengklaim tidak ada satu pun partai koalisi yang berkukuh mengajukan kandidatnya sebagai cawapres Jokowi. Dia meyakini koalisi Jokowi solid dan justru menguat dengan hasil pemilihan kepala daerah serentak tahun ini. Romi menyebut, pernyataan Ferdinand itu kemungkinan cermin sikap Demokrat sendiri yang ingin mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon wakil presiden.

    "Mungkin itu refleksi dari keinginan Partai Demokrat, karena Demokrat ingin memajukan AHY sebagai calon wakil presiden," kata Romi.

    Baca: Golkar Buka Peluang Koalisi dengan Demokrat Menangkan Jokowi

    Romi balik mengomentari gagasan Demokrat membentuk poros ketiga dalam pemilihan presiden 2019 nanti. Romi menilai, poros ketiga akan sulit terbentuk. Dia berasumsi saat ini sudah ada dua koalisi, yakni koalisi pengusung Jokowi dan koalisi Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra. Dengan asumsi konstelasi ini, kata dia, yang tersisa adalah Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat.

    Romi beranggapan ketiganya akan sulit berkoalisi. Sebab, kata dia, ketiga partai ini sama-sama mengajukan ketua umum atau kadernya menjadi cawapres. PKB mengajukan Muhaimin, PAN mengajukan ketua umumnya, Zulkifli Hasan, dan Demokrat menyorongkan AHY.

    "Tidak mungkin satu sama lain akan saling mengalah. Saya bisa pastikan di antara Demokrat, PAN, dan PKB sudah pasti akan memilih salah satu di antara poros yang ada, Jokowi atau Prabowo," kata Romi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.